Selamat Datang!

MENGEMBALIKAN SPIRIT SUMPAH PEMUDA

Oleh : Abdul Gaffar

adanya hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober adalah sebuah bukti bahwa pemuda masih memiliki semangat tinggi dalam upaya perbaikan Negara dan bangsa.

Patut kita kenang, dimana para pemuda terdahulu mampu bersolek guna menjunjung tinggi nasionalisme diujudkan dalam Ikrar yang dilatarbelakangi semangat perlawanan feodalisme.

Semangat juang para pemuda 1928 termaktub dalam Sumpah Pemuda yang di dalamnya tertulis sebuah legetimasi berupa ikrar-ikrar semangat juang, meliputi satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air tak lain hasil dari Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Tentu ini merupakan turunan dari prinsip-prinsip dasarnya, satu bahasa merupakan simbol dari persatuan, satu bangsa tidak lain adalah semua bangsa setara dan sama-sama mempunyai hak dan kewajiban, satu tanah air dalam rangka untuk mencapai suatu kemerdekaan.

Namun, semangat Sumpah Pemuda 1928 telah nampak mulai terkubur secara berlahan-lahan sejak pasca bergulirnya Reformasi 1998 yang tidak lain diakibatkan oleh semata-mata kepentingan individualistik dan prakmatis para pemuda, sehingga agenda-agenda kepemudaan terabaikan begitu saja, semangat juang tidak lagi berperinsip pada kebersamaan. Maka wajar negara ini masih belum sampai ke taraf kedewasaan atau kemerdekaan secara utuh sesuai cita-cita bangsa.

Sumpah Pemuda sebagai faktor integratif keindonesiaan kini tampaknya hanya menjadi sekadar bagian dari "ingatan bersama" (collective memory) keindonesiaan. Ia kelihatan telah kehilangan elan vital fungsionalnya untuk mengokohkan kembali integrasi bangsa yang terus mengalami gangguan.

Agenda fundamental pemuda yang sering terabaikan adalah semangat juang dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Gerakan pemuda selalu terjebak di persimpangan jalan, mereka lebih sering memilih semangat kepentingan prakmatis karena dianggap lebih menguntungkan kemudian mengabaikan tugas utama pemuda. Akibatnya, aksi yang bersifat memihak pada kepentingan rakyat tidak banyak digelar oleh para pemuda (Mahasiswa) karena terbelenggu dalam kemewahan hidup akibat kapitalisme.

Semua itu, mengakibatkan kekhawatiran memudarnya nasionalisme, sebagai akibat persoalan internal dan dampak eksternal atau global tidak dapat dimungkiri. Bagi bangsa Indonesia yang berdaulat, nasionalisme adalah suatu tata pikir dan tata rasa yang meresapi mayoritas terbesar sesuatu rakyat dan menganggap dirinya meresapi semua anggota rakyat itu.

Nasionalisme mengakui negara nasional sebagai bentuk ideal organisasi politik dan menganggap nasionalitas sebagai sumber bagi segala tenaga budaya yang kreatif serta kesentosaan ekonomi. Karena itu, kesetiaan tertinggi manusia harus ditunjukkan pada nasionalitasnya, sebab hidupnya itu sendiri disangka berakar di dalamnya dan dimungkinkan oleh kesejahteraannya (Hans Kohn, 1956:16).

Mengingat kebesaran arti sejarah Sumpah Pemuda bagi perjalanan bangsa kita, maka sepatutnyalah kiranya sang pewaris tidak hanya mampu mengenang peristiwa besar itu, melainkan juga merenungkan betapa urgennya bagi kita semua untuk menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu di antara berbagai sarana pendidikan bangsa kita yang sedang sakit dewasa ini.

Menjadikan Hari Sumpah Pemuda sebagai alat untuk meneruskan tugas national and caracter building yang dipelopori oleh Bung Karno beserta para perintis kemerdekaan lainnya. Sumpah Pemuda tidak sebatas diperingati dalam upacara seremonial sambil mengenang jasa para pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam sumpah untuk satunya Indonesia.

Di zaman sekarang ini, sejatinya pemuda mampu mendeklarasikan beberapa agenda yang sangat mendesak bagi bangsa ini. Pertama, mengembalikan semangat reformasi 98 yang dapat mengangkat moral perjuangan pemuda Indonesia, dan mengingatkan penguasa untuk kembali ke jalur reformasi.

Kedua, menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan internasionalisme. Semangat kebangsaan diperlukan sebagai identitas dan kebanggaan, agar anak bangsa tidak tercerabut dari akar dan sejarah bangsanya. Ketiga, perlunya kesepahaman baru bagi pemuda Indonesia dalam melaksanakan agenda-agenda kebangsaan yang banyak tertunda akibat kurangnya komunikasi antar ormas pemuda selama ini. Keempat, pemuda menjadi aktor untuk terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya di negeri ini.

Kita mesti ingat, bahwa gerakan pemuda 1908 telah menyemai cita-cita kemerdekaan. Kemudian gerakan pemuda 1928 pun semakin mempertegas bingkai cita-cita itu, dan gerakan pemuda 1945 telah memancang tonggak perwujudan cita-cita itu. Lantas, prestasi apa yang sedang diraih oleh gerakan pemuda 2010? Tentu, sebuah pertanyaan yang harus dijawab kaum muda saat ini secara arif. ***

Penulis adalah Kepala Riset Kajian Sosial pada The Banyuanyar Institute Yogyakarta.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, October 28, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved