Selamat Datang!

LEO SUNARDI: “Pengurus, Pengawas, Manajemen Sungguh-sungguh Terlibat Dalam Pengembangan CU”

Akhir bulan lalu, tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2010 semua penggiat di Credit Union Sumber Rejeki berkumpul di Ampah untuk mengikuti pemberkatan kantor barunya.

Setelah 10 tahun eksis di tanah Dayak di wilayah Barito Timur dan sekitarnya sudah waktunya membangun kantor baru yang megah, agar pelayanan kepada anggota lebih maksimal.

Tentu saja ada kebanggaan pribadi maupun kelompok di hati para penggiat CU SR. Tim web cubetang asi.com berkesempatan mewancarai ketua pengurus CU SR, Leo Sunardi di kantor baru yang terletak di jalan negara Tamiang Layang-Ampah, berikut petikannya:

Sejauh ini bagaimana CU SR bisa berkembang sampai sekarang?, faktor-faktor apa saja yang mendukungnya?

Faktor yang mendukung, untuk daerah Barito Timur sebelum CU datang, sudah ada program dari keuskupan, baik dari Banjarmasin maupun keuskupan Palangka Raya tetap berjalan melalu PLP Putai Idi, ada program yang bernama Tabungan Bina Anggaran. Ini sudah berkembang di daerah Barito dari tahun 1977.

Itu yang mendasari bahwa perkembangan CU untuk daerah alur Barito menjadi cepat karena dasarnya sudah ada. PLP Putai Idi memikirkan bahwa program ini baik dan bisa diterima oleh masyarakat dari tahun 1977-1990an  masyarakat menanggapi dengan baik. Sebelum para senior di PLP mundur dalam arti usia, seperti Pastor Mohr usianya sudah lanjut dan lain-lain dan saya sendiri sudah mau masuk pensiun, sayang bila yang sudah dikenal oleh masyarakat itu dapat dilanjutkan, maka untuk itulah ide membuat CU itu. CU sendiri/ koperasi ini tidak murni soal bidang keuangan tetapi sembako, untuk kemudahan itu, anggota di samping menyimpan bisa memesan sembako melalui koperasi ini dulu.

Tapi karena dari jaringan yang di Pontianak, katanya tidak boleh dicampur aduk makanya hasilnya dipisahkan dan sekarang kami murni tentang itu (simpan pinjam). Pada awalnya kami dulu, koperasi ini sebagai gantinya dari bina anggaran dulu. PLP Putai Idi mempunyai program kerja baik itu dalam pemasaran karet, sarana produksi pertanian, tabungan dan pinjaman itu semuanya menjadi satu.

Dari pengalaman yang sudah dilakukan selama ini, apa saja tantangan dihadapi oleh CU SR?

Tantangan yang dihadapi CU SR, untuk pengembangan sedikit diragukan oleh masyarakat karena ini melalui gereja Katolik dan kebetulan kami tokoh-tokohnya orang Katolik tapi kami mencoba ke kampung-kampung di mana ada kesempatan mengatakan bahwa ini bukan punyanya gereja Katolik, tetapi ini untuk umum, siapapun boleh masuk dan sesudah itu teman-teman dari gereja Protestan tertarik masuk dan mengalami sendiri bahwa itu tidak memilah-milahkan, apalagi bahwa ada staf CU SR juga dari non Katolik juga Muslim, Hindu.

Dari sisi peluang ke depan?

Peluang yang dihadapi ke depan untuk CU SR, karena ini di Kalteng ada pemetaan ada 4 cu primer. Untuk CU SR mempunyai areal dan wilayah yang luas dan baru sedikit yang ditangani.

Jika dipersentasekan, berapa persen?

Belum sampai 25%.

Harapan ke depan untuk CU SR, setelah diberkatinya kantor baru?

Harapan ke depan untuk CU SR, bahwa dengan diresmikannya kantor ini, baik itu pengurus, pengawas, manajemen khususnya sungguh-sungguh  terlibat dalam pengembangan CU ini. karena ini sudah jadi besar, intinya kalau orang dalam sendiri tidak memahami adanya nilai-nilai pengabdian sosial, solider itu tidak ada, hanya sekedar mengambil upah maka sayang untuk ke depan.

Kepada anggota kami tekankan CU ini bukan hanya sebagai nasabah tapi adalah pemilik karena pemilik mereka juga harus berkewajiban menjaga, membesarkan, mengelolanya dan mengawasinya secara langsung.

Apakah CU SR ada kerja sama dengan pihak lain dalam mengembangkan CU SR, misalnya sekolah, lembaga keagamaan dan lain-lain?

Untuk sekarang itu CU SR kerja sama dalam soal keuangan kami ada jaringan dengan Bank, juga dengan BKCUK dan untuk manajemen ke sekolah baru kami rintis tahun 2010 ini,  memulai pengembangan untuk tabungan anak-anak sekolah (produk TAS), terus untuk masyarakat kami juga dikenal dengan pengelolaan ambulans CU SR, sekarang kami punya ada 4 ambulans, yang dikenal oleh masyarakat oh.... itu ... adalah ambulans CU. Kalau ada keperluan hubungi saja kami. Kalau ada kematian, sakit dan lainnya.

Ambulans promosi yang paling baik memang, karena kesana-kemari, karena ada program PANGIDRA itu kami menyampaikan sebelum acara penguburan biasanya. Kan waktu mengubur, orang ada banyak, kami promosikan itu, pertama kami sampaikan uang PANGIDRA itu, apa-apa saja yang menjadi hak anggota dari jaringan.

Apakah ada juga kerja sama dengan pihak pemerintah?

Kalau pemerintah itu misalnya ada dengan ambulans ini seperti 17an Agustus ambulans ikut membantu, kalau ada dalam hal kebakaran di Buntok juga Pak Edy meluncur ke sana. Saat ini kami hanya secara tidak langsung, juga ada di dana sosial itu kami bantu sesuai dengan dana yang ada dengan beberapa lembaga keagamaan.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, September 14, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved