Selamat Datang!

GERAK EKONOMI SAAT LEBARAN TIBA


Ada pola ekonomi yang rutin terjadi saat masa puasa dan Lebaran. Indikator ekonomi seperti inflasi dan uang beredar berubah naik. Ini terjadi karena ada perubahan pola konsumsi masyarakat yang kemudian menggerakkan produksi barang atau jasa. Akibatnya, sektor ritel pun ikut mendapat ”berkahnya”.


Hasil survei Litbang Kompas akhir Agustus lalu mengenai pola konsumsi masyarakat selama masa puasa dan menjelang Lebaran mengungkap kebiasaan masyarakat yang mendorong kenaikan angka inflasi dan uang beredar. Menurut sebagian besar responden, terjadi penambahan menu makanan selama bulan puasa dan (biasanya) Lebaran dibandingkan dengan menu di hari biasa.


Menu di saat Lebaran bahkan diakui oleh banyak responden lebih bervariasi dibandingkan menu waktu puasa. Hal tersebut disampaikan delapan dari sepuluh responden. Kondisi seperti ini berlangsung bertahun-tahun meskipun pada masa itu biasanya harga-harga barang kebutuhan, baik makanan maupun non-makanan, melonjak.


Inflasi naik


Dalam kondisi kini, di antara harga-harga bahan makanan yang sudah naik, harga daging ayam, daging sapi, dan beras yang paling banyak dirasakan kenaikannya oleh responden.


Dilihat dari kuantitas konsumsi, dari sepuluh jenis bahan makanan yang ditanyakan, peningkatan konsumsi gula adalah yang paling banyak diutarakan responden selama bulan puasa dan Lebaran ini (42 persen).


Hal ini bisa dijelaskan oleh kebiasaan berbuka masyarakat yang mayoritas berpuasa ini dengan hidangan yang manis untuk asupan energi. Sementara responden yang menyatakan konsumsi gula tetap sebanyak 46,3 responden. Sisanya menyatakan konsumsi gula berkurang. Konsumsi berikutnya yang meningkat cukup banyak adalah buah-buahan dan makanan kecil jajanan atau jamuan.


Tidak hanya belanja bahan makanan sehari-hari, frekuensi makan di luar rumah juga meningkat. Tingginya aktivitas belanja di luar rumah ini kemudian ikut mendorong bertambahnya pengeluaran. Di samping itu, setidaknya separuh responden (53,2 persen) menyatakan ada peningkatan pengeluaran untuk membeli pakaian pada masa sebelum Lebaran.


Dari data periode 2005-2009, kenaikan harga barang-barang secara umum saat puasa hingga Lebaran rata-rata 1,56 persen. Inflasi tertinggi pada bulan puasa terjadi tahun 2005, yakni saat harga bahan bakar minyak (BBM) naik sampai 126 persen beberapa hari sebelum puasa. Saat itu inflasi bulanan mencapai 8,7 persen dan naik lagi 1,31 persen saat Lebaran.


Pemicu inflasi pada bulan Ramadhan dan hari raya merupakan gabungan dari peningkatan konsumsi masyarakat, penukaran receh baru, peningkatan mobilitas, dan peningkatan jumlah uang beredar. Dalam lima tahun terakhir, uang beredar dalam arti sempit atau M1 naik rata-rata 4,35 persen sebulan menjelang Lebaran. Saat Lebaran, uang beredar terus meningkat kecuali tahun 2005, yakni sebulan setelah kenaikan harga BBM, dan saat Lebaran tahun 2008, yakni saat krisis ekonomi dunia. Pada dua titik waktu tersebut, uang beredar susut 4,13 persen (2005) dan 4,30 persen (2008).


Sebagai gambaran, jumlah uang yang beredar saat puasa dan Lebaran 2009 sebesar Rp 490,5 triliun atau naik Rp 21,6 triliun dibandingkan sebelum masa puasa. Pertambahan jumlah uang pada masyarakat salah satunya disebabkan oleh aliran dana dari tunjangan hari raya (THR) dari perusahaan sebesar satu kali upah sebulan.


Untuk tahun ini, THR yang mulai diterima oleh masyarakat diakui cukup membantu menutupi pembengkakan pengeluaran. Dari 707 keluarga pemilik telepon yang menjadi responden, 67 persen menyatakan tunjangan yang mereka terima cukup untuk memenuhi peningkatan belanja.


Distribusi THR


Penggunaan THR sejauh ini masih dihabiskan untuk kegiatan konsumtif. THR umumnya akan digunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, makanan kecil dan jamuan untuk hari raya, pakaian, sepatu, atau penunjang penampilan lainnya. Menurut sebagian besar responden, pengeluaran terbesar dari tunjangan ini habis untuk belanja makanan kebutuhan sehari-hari.


Bagi sebagian besar responden yang berniat mudik, pengeluaran terbesar mereka dari THR adalah biaya transportasi. Besaran biaya mudik per keluarga bervariasi, tetapi umumnya (57,67 persen) menganggarkan sekitar Rp 2 juta untuk sekali pulang kampung.


Aliran uang yang dibawa pemudik, baik yang dibagikan ataupun dibelanjakan di kampung halaman ini, kemudian kadang dianggap sebagai multiplier atau pengganda nyata yang mampu mendistribusikan pendapatan dari kota ke desa.


Sebagian responden menyatakan, kegiatan membagikan uang ke orang lain atau bersedekah juga menjadi pos pengeluaran terbesar. Kegiatan membagi-bagi uang ini menjadi salah satu pendorong maraknya bisnis penukaran uang di pinggir-pinggir jalan, terminal, dan stasiun di kota-kota besar.


Lalu, bagaimana kelompok yang tidak mendapat THR? Selain ibu rumah tangga, responden yang tidak menerima tunjangan jenis ini umumnya adalah wirausaha. Sebagian besar dari mereka mengatasi lonjakan pengeluaran dengan mengambil tabungan yang ada.


Sementara bagi keluarga yang pengeluarannya lebih besar dibandingkan dengan tunjangan yang didapat, umumnya juga harus mengambil sebagian tabungan. Jika tidak ada tabungan yang bisa diambil, mereka berencana menekan belanja.


Namun, ada juga yang bersikeras untuk tetap berbelanja meskipun tunjangan yang didapat jauh di bawah kebutuhan. Alasannya, penyediaan barang-barang tersebut sudah menjadi tradisi.


Berkah ritel


Tingginya aktivitas belanja menjelang Lebaran ini menjadi ”berkah” tersendiri bagi sektor ritel. Dari pengalaman masa lalu, penjualan sektor ritel meningkat signifikan selama bulan puasa dan Lebaran. Perdagangan pakaian, sepatu, dan penunjang penampilan tumbuh paling tinggi diikuti penjualan suvenir atau cendera mata. Di posisi ketiga adalah larisnya makanan dan tembakau.


Indeks penjualan ritel apparel naik rata-rata 25,24 persen di bulan puasa dan Lebaran pada lima tahun terakhir. Tradisi berbelanja paling tidak sekali dalam setahun saat Lebaran tiba ikut menggerakkan dan menaikkan sektor-sektor tersebut.


Apalagi, memang, separuh responden menyatakan bahwa pengeluaran mereka meningkat untuk pembelian kebutuhan dalam rangka Lebaran.


Oleh : RATNA SRI WIDYASTUTI (Litbang Kompas)


Sumber : Kompas. com




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, September 7, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved