Selamat Datang!

SIMPUN SAMPURNA: “Pemerintah Lupa Dengan Masyarakat Adat Yang Dulunya Berjuang Untuk Kemerdekaan”

Tanggal 9 Agustus yang lalu adalah hari masyarakat adat internasional, hari ini di tetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1994. Peringatan ini dilakukan untuk menghormati hak asasi manusia yang diabadikan dalam piagam dan mencari solusi untuk meringankan penderitaan masyarakat adat.

Tim redaksi cubetangasi.com berkesempatan untuk mewawancarai Simpun Sampurna di sekretariat Aliansi Masyarakat Adat Kalimantan Tengah di Sisingamangaraja No.3 Palangka Raya pada awal Agustus 2010. Pria yang lebih akrab dipanggil Dadut saat ini sebagai ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) AMAN Kalteng selama 5 tahun (2010-2015). Berikut petikan wawancaranya:

Pandangan Anda terhadap perjuangan Masyarakat Adat di Kalimantan Tengah?

Masyarakat adat yang notabene dari asal usulnya sudah lama hidup berakar dan berbudaya, sehingga masyarakat adat Kalimantan Tengah punya falsafah betang. Nah ... dengan melalui falsafah itu hidup bergotong royong jadi sifat-sifat dan prinsip-prinsip  masyarakat adat di Kalimantan Tengah ini mempunyai kultur yang sangat jauh dari masyarakat adat di daerah lain terutama dan khususnya dari Kalimantan Tengah.

Ketika orang-orang yang berkunjung ke Kalimantan Tengah disapa dengan ucapan selamat (baca ramah), itu pandangan kita terhadap masyarakat adat di kalimantan Tengah terkait dengan sumber daya alam yang melimpah ruah menurut pandangan masyarakat yang datang berkunjung.

Nah... ada hal yang belum bisa kita lakukan yaitu masyarakat adat Kalimantan Tengah masih belum mempunyai sumber daya manusia untuk mengelola sumber daya alam yang ada ini seutuhnya.  Terkait dengan hari masyarakat adat dunia (baca internasional) yang jatuh pada tanggal 9 Agustus  2010 lalu, mari masyarakat adat Kalimantan Tengah bangkit dan membangun wilayah kita ini  agar kita menjadi masyarakat adat yang kuat.

Dalam hal perjuangan masyarakat adat untuk bisa bangkit dan kuat, hal-hal apa saja yang dapat membantu perjuangan itu, menurut Anda?

Ada beberapa hal yang bisa kita lihat. Satu, kita harus menunjukkan diri kita dengan nilai-nilai budaya dan seni yang kita tunjukkan, kemudian kita kuatkan nilai-nilai kearifan lokal yang turun temurun sudah dilakukan, itulah yang menjadi jati diri kita yang kuat. Telah terbukti dari dulu sampai sekarang alam yang dijaga oleh masyarakat adat masih utuh dan masih bisa bermanfaat.

Mungkin dapat diberikan contoh bentuk dari kearifan lokal itu?

Kearifan lokal yang kita lihat salah satunya mungkin di Barito Timur, hutannya masih utuh/ ada. Mereka arif dan bijaksana untuk mengelola kawasan itu, dimanfaatkan, dikelola dan dipelihara. Ini berarti kearifan lokal yang mereka miliki berdasarkan budaya-budaya dan aturan-aturan adat setempat.

Hal-hal yang menghalangi dari perjuangan masyarakat adat itu sendiri apa?

Dari sisi investor, mereka  menganggap bahwa masyarakat adat tidak mempunyai tempat, yaitu salah satunya disebut dengan ladang berpindah. Padahal masyarakat adat sudah mempunyai aturan-aturan yang jelas bahwa masyarakat adat tidak sebagai ladang berpindah, tetapi masyarakat adat mempunyai ladang gilir balik yang sudah dilakukan turun temurun, sehingga tetap bisa mereboisasi dan menjaga alam itu sendiri.

Nah... ini hambatan bagi masyarakat adat yang konon dikatakan bahwa kita perusak hutan tapi, faktanya sampai hari ini bahwa masyarakat adat tidak pernah merusak hutan dan mereka melindungi. Walaupun dengan membakar mereka punya tradisi sendiri, yaitu menjaga kawasan yang mau di bakar agar tetap utuh dan tidak merembet ke lain. Ini juga salah satu bukti-bukti kearifan lokal kita yang tetap terjaga dan utuh.

Selain dari investor, mungkin ada yang lain?

Bisa saja dari masyarakat luar, bahwa masyarakat yang sudah maju dia akan melihat bahwa sumber daya alam menjadi asset masyarakat adat dan dipublikasikan keluar, inilah salah satu penghambat seperti itu. Bisa saja promosi-promosi  keluar dan mulai dari pemerintah juga kena. Kenapa ...?

Undang-undang secara khusus untuk pengakuan hak-hak masyarakat adat secara utuh itu belum ada di Indonesia. Nah ...ini menjadi penghambat betul..., padahal mereka telah terbukti menjaga kearifan-kearifan lokal dan sampai sekarang telah ada. Ini yang AMAN perjuangkan ke depan agar mendapat pengakuan dari pemerintah, yaitu sisi pengakuan hak  mutlak secara utuh.

Berhubungan dengan pemerintah, pendapat Anda terhadap keberpihakkan Negara pada masyarakat adat sendiri bagaimana?

Untuk sejauh ini belum sepenuhnya keberpihakkan itu. Mereka separuh tidak mengakui, mengapa ....?. Ini terbukti dengan adanya masalah di tingkat masyarakat adat,  padahal dulunya sebelum kemerdekaan 1945 itu, bahwa Negara Republik Indonesia meminta kepada masyarakat adat untuk bergabung dan mohon doa restu agar bisa berjalan. Saat ini terbalik, setelah diberikan kekuasaan dan pemerintah mentelantarkan masyarakat adat dan sampai sekarang hanya seperti tameng saja masyarakat itu.

Menurut Anda mengapa itu bisa  terjadi, seakan-akan masyarakat adat hanya tameng saja?

Ya... karena pemerintah lupa dengan masyarakat adat yang dulunya berjuang untuk kemerdekaan ini. Sehingga banyak perubahan-perubahan ketika di dalam kemerdekaan ini dan proses menjalankannya belum sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah baik dari tingkat nasional dan internasional.

Namun di tingkat internasional sudah mengakui dengan United Nation Declaration on The Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP), namun pada kenyataannya di bangsa kita sendiri belum mengakui itu sepenuhnya, sehingga ini berkendala ke masyarakat adat.

Harapan Anda untuk masyarakat adat Kalteng menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi?

Melihat dari beberapa perubahan dari tahun ke tahun, bahwa masyarakat adat di Kalimantan Tengah, banyak budaya-budaya luar yang masuk sehingga budaya asli kita sendiri belum bisa kita kembangkan dengan baik. Nah ... harapan kita ke depan agar budaya-budaya  ini diberi tempat pada porsi sendiri agar bisa dikembangkan lagi. Misalnya kerajinan anyam-anyaman, juga budaya gotong royong. Kita tunjukkan pada mereka  bahwa kita mempunyai budaya, ciri khas yang khusus sehingga orang lain bisa melihat kita dan menjadi tolak ukur masyarakat adat di Kalimantan Tengah.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, August 12, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved