Selamat Datang!

MATHEUS PILIN: “Jauh Sebelum Negara Ini Ada Masyarakat Adat Itu Sudah Ada”

Anggota CU Betang Asi yang berjumlah 17.142 orang per 31 Juli 2010 dipastikan ada dari masyarakat adat yang masih hidup dengan budaya Dayak yang kental. Di tengah himpitan budaya globalisme yang tidak mengenal ruang batas dan waktu akan semakin menggilas masyarakat adat Dayak.

Perjuangan masyarakat adat di Kalimantan Tengah tentu tidak bisa dilepaskan dari perjuangan masyarakat adat daerah lain (baca Indonesia). Factor di tingkat global juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan di bidang sosial budaya ataupun politik di tingkat lokal.

Sebagai bahan refleksi dari hari masyarakat adat internasional yang jatuh pada 9 Agustus 2010 lalu, dapat dilihat sisi mana yang dapat dijadikan sebagai tali pemersatu (benang merah). Medio Agustus lalu tim cubetangasi.com melakukan diskusi singkat dengan Matheus Pilin di Aula Soverdi Palangka Raya.

Pilin, sebagai seorang aktivis NGO yang sudah berkiprah di isu masyarakat adat, tentu sudah cukup dikenal, berikut petikan wawancaranya:

Apa pandangan Anda terhadap perjuangan masyarakat adat Dayak di Kalimantan?

Saya kira perjuangan masyarakat adat di Kalimantan itu tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan masyarakat adat nusantara dan perjuangan masyarakat adat nusantara itu tidak bisa juga dipisahkan dengan perjuangan masyarakat adat di tingkat internasional, oleh karena itu saya kira perjuangan masyarakat adat yang dilakukan di tingkat lokal, kampung sekalipun itu sangat berhubungan dengan perjuangan masyarakat adat di tingkat dunia, itu pandangan saya yang pertama.

Pandangan saya yang kedua, bahwa apa yang diperjuangakan oleh masyarakat adat ini adalah memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak mereka terkait dengan posisi masyarakat adat yang tidak bisa dipisahkan dari bagian dari Negara Republik Indonesia ini.

Menurut Anda, secara lokal, nasional maupun global apa benang merah dari perjuangan itu?

Saya kira benang merah dari perjuangan masyarakat adat itu adalah  memperjuangkan pengakuan (recognize), nah... deklarasi PBB yang baru saja dikeluarkan  yang mengatur tentang hak-hak masyarakat adat sudah cukup kuat sebagai payung untuk melahirkan produk kebijakan di tingkat nasional oleh karena itu benang merahnya adalah berkaitan soal pengakuan terhadap keberadaan masyarakat adat itu sendiri dan pengakuan terhadap hak-hak yang mereka miliki.

Kenapa Anda mengatakan benang merahnya adalah pengakuan dari keberadaan masyarakat adat?

Saya kira alasan mengapa masyarakat menuntut pengakuan itu, karena jauh sebelum Negara ini ada masyarakat adat itu sudah ada. Maka dalam isi deklarasi masyarakat adat yang di tuangkan dan dikumandangkan pada tahun 1999 lalu, “Kami tidak akan mengakui Negara kalau Negara tidak mengakui kami”, itu sudah sangat jelas. Artinya bahwa hak-hak itu menjadi bagian yang sangat penting.

Menurut anda apa saja tantangan ke depan dari perjuangan masyarakat adat menuntut hak-haknya?

Saya kira tantangannya itu ada dari luar ya ...!, tantangan dari pihak eksternal berkaitan political action, kalau yang lalu kan orang mengatakannya adalah political will, menurut saya itu tidak cukup harus ada political action. Ini berarti ada aksi yang memang secara kongkrit dilakukan oleh para pemangku kebijakan untuk memberikan pengakuan-pengakuan secara jelas kepada masyarakat adat. Tantangannya adalah ada tidak political action yang di tingkat pemangku kebijakan itu.

Nah... yang kedua juga tantangannya adalah bagaimana regulasi yang ada di Indonesia dan secara khusus di tingkat lokal seperti propinsi dan daerah itu, bisa diterjemahkan dari instrument-istrumen kebijakan di dalam masyarakat adat di tingkat internasional.

Jika kita lihat dari aktivis muda Dayaknya, bagaimana sikap kita seharusnya dengan kondisi ini?

Saya melihatnya untuk pemuda adat, secara khusus untuk pemuda adat Dayaknya ada beberapa tahapan yang harus mereka lakukan  yang pertama, di tingkat kampung mereka mengorganisir diri, artinya memulai menyadari bahwa masyarakat adat itu dihadapkan pada beberapa tantangan. Tantangan di tingkat global, nasional dan lokal.

Yang kedua, setelah dia menyadari bahwa pentingnya mengorganisir diri menjadi kompak, menjadi sama dalam rangka melakukan perjuangan, maka dia wajib untuk melakukan konsolidasi dan konsolidasi ini bisa dilakukan secara massif, sistemik dan terprogram saya kira, dengan demikian perjuangan pemuda adat menjadi terkonsolidasi dengan baik. Sementara yang lain juga kapasitas pemuda-pemuda dayak menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

Harapan anda untuk masyarakat adat di Kalimantan?

Pertama, kepada masyarakat adat di seluruh Kalimantan, dengan lahirnya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalimantan Barat kemudian lahirnya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Kalimantan Tengah ini bagaimana untuk memperkuat Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Kalimantan Timur.

Nah... yang lainnya juga bagaimana Aliansi Masyarakat Adat ini juga bisa memposisikan dirinya terhadap  organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Dayak, itu juga penting untuk semakin dipertegas  karena itu semua bermuara kepada bagaimana masyarakat adat itu bisa diorganisir, bisa terkonsolidasi kalau konsolidatornya ini juga terlalu banyak ragam.

Harapan yang kedua, menurut saya karena masyarakat adat ini dalam rangka mewujudkan harkat dan martabatnya dengan satu visi bagaimana mereka bisa mandiri secara ekonomi, bermartabat secara budaya dan berdaulat secara politik, maka seluruh komponen yang ada itu harus saling bekerja sama.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, August 18, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved