Selamat Datang!

Drs. F.X Manesa, M.Pd : “Semua anggota berhak untuk mengingatkan pengurus, manajemen, maupun anggota yang menyimpang”

Pengawas adalah bagian dari struktur Credit Union Betang Asi. Orang-orang yang duduk disini tentu saja dipercaya mengemban tugas yang berat. Ibarat permainan sepak bola agar bermain di dalam koridor, peran wasit sangat diperlukan. Kartu kuning akan diberikan kepada pemain yang tidak bermain fair play, terlebih-lebih kepada pemain yang tidak sportif akan diberikan kartu merah.

Di CU Betang Asi Drs. FX. Manesa, M.Pd, adalah ketua pengawas yang dibantu oleh Syamsi Mahar yang duduk di sekretaris dan Sewantapuja, S.Pd sebagai anggota. Saat ini Manesa sebagai kandidat doctor di Universitas Negeri Malang. Setengah jalan sudah dilaluinya agar bergelar doctor dengan disertasinya yang fokus pada teknologi pembelajaran.

Medio Juli lalu tim web cubetangasi.com, mewawancarai Manesa sebagai ketua pengawas di CU Betang Asi, berikut petikannya:

Selama 7 tahun CU Betang Asi berjalan, apa suka dan duka yang Bapak alami sebagai pengawas?

Aspek suka, kepengawasan dilihat dari kegiatan manajemen atau pengurus itu berjalan dengan lancar dalam arti kemajuan lembaga dari aspek pertumbuhan anggota, asset maupun persebaran wilayah, sesuai dengan harapan, berarti lembaga itu maju.

Jadi kegiatan lembaga CU adalah kegiatan tim, kalau semua elemen itu maju berkembang untuk memajukan masyarakat, itulah kebahagiaannya. Pengawas juga berfungsi untuk mensupport agar permainan itu berjalan dengan baik dan semua elemen atau system yang dikembangkan berjalan dengan baik, mencapai hasil yang diharapkan, kami sebagai pengawas memantau apakah dilaksanakan oleh pengurus, manajemen maupun anggota dengan baik.

Hal-hal yang tidak mengenakkan apabila sudah memberikan peringatan berkali-kali, masih saja keliru pada umumnya di sisi anggota. Pada sisi manajemen, ada staf yang belum menujukkan pemahaman maupun kemampuannya sehingga pelayanannya kepada anggota tidak seperti yang diharapkan. Kita melihat ada hal-hal yang keliru meskipun tidak disadari. Kekeliruan itu terjadi karena kesulitan yang mereka hadapi. Itulah duka yang kami alami. Wilayah yang dijangkaupun cukup luas, sementara tenaga kita hanya tiga orang. Ini menjadi kesulitan tersendiri untuk menjaga sebuah permainan tim di medan yang cukup luas, harus dijangkau sedemikian rupa.

Kendala dan tantangan apa yang dialami selama mengawas di CU ini?

Kendala yang dihadapi pertama, adalah pemahaman anggota masih sulit untuk kita benahi. Anggota lebih banyak melihat CU sebagai satu peluang, tapi lupa pada kemampuannya. Peluang ini bisa menjadi kesulitan bagi anggota. Artinya sebagai anggota CU yang  melakukan simpan pinjam, aspek pinjaman oleh anggota menghitung pada aspek maksimal, tapi tidak melihat kemampuan dalam mengembalikan pinjaman.

Tapi di tengah jalan mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya. Artinya pengembalian pinjaman menjadi sulit, kita melihat itu menjadi kendala serta dilematis, lembaga kita peringatkan, tapi unsur kekeliruan ada pada anggota, juga lemahnya lembaga.

Kami dari pengawas melihat hal-hal seperti itu mendorong dan menyelamatkan anggota agar tetap bertumbuh secara pelan-pelan dan tidak keluar dari lembaga, jangan karena kesulitannya malah keluar dari lembaga.

Kendala kedua, kita melihat bahwa luasnya wilayah untuk menjangkaunya memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang cukup tinggi. Misalnya kita harus ke Telok (Tumbang Samba, Katingan), harus ke Tumbang Malahoi (Rungan), kemudian di Kuala Kurun, kemudian harus ke Banjarmasin. Di kantor pusat (Palangka Raya), jadi luasnya ini memerlukan mobilisasi, tenaga dan kemampuan pengawas, ini merupakan kendala, karena ada di antara pengawas yang belum mampu dan mabuk di kondisi jalan demikian sehingga bekerja tidak maksimal.

Dengan kata lain Bapak mengatakan kurangnya tenaga kepengawasan itu sendiri di satu lembaga yang sudah besar?

Jika kita menggunakan bahasa kendala berarti aspek eksternal, bukan internal. Jadi pada aspek internal pengawas, menuntut begitu. Di sisi lain pekerjaan pengawas seperti pak Syamsi sebagai guru SMP di Sepang Kota, Pak Sewan sebagai kepala dinas cabang di Sepang dan saya sebagai pengajar di Palangka Raya sambil mengikuti kegiatan pendidikan, namun ini sisi dalam bukan kendala. Tapi satu kesulitan bagi kegiatan kepengawasan, sementara harus dituntut oleh lembaga.

Itu tuntutan ya?, jadi mau tidak mau ketiga pengawas ini benar-benar harus optimal!

Ya, harus berusaha begitu (optimal), sementara ada satu sisi kendala transport yang sulit untuk menjangkau itu dan kemampuan fisik belum mampu.

Kalau tantangannya bagaimana Pak?

Saya kira pertumbuhan anggota dan asset menjadi tantangan kita harus melihat dan mampu mengawasi anggota bagaimana dia melakukan aktifitasnya berCU supaya dapat berjalan dengan baik. Semakin melebar dan semakin banyak anggota bertumbuh, semakin besar asset.

Di satu sisi kita menjaga anggota, asset, lembaga bertumbuh dan memberikan pelayanan benar dan baik kepada masyarakat untuk memberikan ruang masyarakat sebagai individu maupun komunal masuk menjadi anggota CU.

Di satu sisi juga masyarakat dengan asetnya (uangnya) mampu bertumbuh untuk menjaga dan memelihara kekayaannya sebagai jaminan pada hari tuanya. Jadi tantangannya adalah menjaga agar pertumbuhan berjalan pada koridor yang benar dan baik.

Berbicara dampak, sejauh mana dampak dari kegiatan kepengawasan untuk pengurus, juga untuk manajemen?

Pengurus sudah memperhatikan laporan pengawas pada sisi yang pentingnya dan pengurus mengambil kebijakan-kebijakan penting untuk kemajuan lembaga sehingga sampai saat kami bisa melihat kemajuan lembaga sesuai dengan harapan. Meskipun setiap tahun tidak bisa 100% tercapai baik asset maupun pertumbuhan anggota, tetapi standar pertumbuhan sudah mencapai, meskipun target program belum 100% tercapai. Pengurus telah mengambil kebijakan-kebijakan berdasarkan hasil kepengawasan, untuk menjaga lembaga ini tetap eksis.

Pada aspek manajemen, kita melihat bahwa pelayanan kepada anggota sudah berjalan, meskipun dari standart yang diharapkan belum memuaskan, misalnya kredit macet di bawah 5% di setiap tempat pelayanan, tetapi masih saja di atas itu (5%). Ini juga bukan hanya dari sisi manajemen, ada juga anggota berkontribusi mengakibatkan kredit macet. Jadi kalau manajemen harus dengan harga mati berpatokan pada standart kredit macet di bawah 5%, maka akan sangat selektif memberikan pinjaman, itu mengurangi ruang untuk anggota bertumbuh.

Aspek manajemen juga memperhatikan saran-saran yang dilakukan oleh pengawas dalam mereka menjalankan kegiatan CU dan melayani anggota. Kami tetap menekankan pada pelayanan yang benar dan baik. Meskipun begitu, kita juga harus memberikan ruang kepada pihak manajemen untuk melakukan kebijakan-kebijakan selama bisa memajukan lembaga, tetapi tidak menyulitkan pada anggota yang bersangkutan dalam kemampuannya menjalankan aktivitas berCU.

Hasil kepengawasan terkesan lambat dilaksanakan dan tidak dieksekusi di lapangan pada tingkat pengurus maupun manajemen, ini menimbulkan bias bagaimana pandangan Bapak?

Ini sebenarnya di luar aspek kepengawasan, karena eksekusi bukan bagian kepengawasan, eksekusi bagian pengurus dan manajemen. Keterlambatan ini barangkali dari pengawas berharap meminimalkan bias ini. Tetapi memang sebuah kesulitan pada pengawas menjembatani antara manajemen yang menjalankan kebijakan yang dihasilkan oleh pengurus, kemudian anggota yang mempergunakan fasilitas, tetapi setelah berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Dari sisi kepengawasan sebaiknya dieksekusi, tetapi dari pertumbuhan asset dan anggota tetap dipelihara kekeliruan itu. Selama memang mungkin dikatakan sebagai musibah yang dihadapi oleh anggota kita harus membina anggota.

Dari sisi anggota yang menyebabkan bias itu, anggota salah persepsi, memang ini harus selalu ditekan sedemikian rupa untuk mengembalikan supaya target-target meminimalkan bias terjadi. Dalam kondisi bias itu menyebutnya kesalahan yang dilihat oleh suatu pihak sebagai satu peluang dengan kesulitan pengurus maupun manajemen melakukan eksekusi, sehingga memberikan ruang terjadinya itu.

Kita melihat pihak yang salah harus tetap bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan dalam rangka memajukan lembaga CU. Jangan sampai orang yang baik dan benar serta berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dan kesejahteraan di masa yang akan datang menjadi korban atas tindakan sebagian atau beberapa orang yang salah persepsi, jadi kondisi bias ini harus diperbaiki.

Saya melihat ada gejala beberapa kawan yang memiliki sejumlah dana kemudian menyimpannya di CU, kalau CU bisa menjualnya kepada anggota yang lain itu tidak jadi masalah. Tetapi manakala CU kesulitan untuk menjual kepada anggota yang lain, maka sebenarnya dari sisi anggota itu sudah bias.

Semestinya kalau mau memelihara CU, sesungguhnya dia menumbuhkan kemampuannya dengan meminjam dan menyimpan di CU, aktivitas ini menumbuhkan CU. Dia memperoleh imbalan yang cukup besar dari pelayanan CU, atas dasar CU mampu memasarkan uang itu kepada anggota CU yang lain. Ada anggota CU yang tidak meminjam di CU, tetapi meminjam di tempat lain karena bunganya lebih murah lalu menyimpan di CU karena bunganya lebih baik/ besar, maka sebenarnya bukan menumbuhkan CU, dia hanya mau cari keuntungan sendiri, bukan mau memajukan CU.

Jadi bukan karena orang yang terpaksa menumbuhkan CU dan ini tidak selalu bagus untuk perkembangan CU pada aspek anggota itu sangat mungkin terjadi, anggota yang diberi kesempatan dapat meminjam di tempat lain.

Dengan kata lain, berarti Bapak melihat salah satu sisi kelemahan  di lembaga CU, orang hanya memanfaatkan bunga simpanan yang tinggi, tetapi dalam hal dia meminjam agar lembaga ini semakin besar, dia tidak peduli!

Saya melihat ini peluang di tingkat pengurus, semestinya bunga simpanan itu bisa ditekan sehingga nanti balas jasa pinjamannya diperbesar. Nilai pinjaman menjadi lebih tinggi,  sehingga balancingnya antara orang meminjam di CU dan menyimpan di CU dapat diperoleh.

Tetapi memang pemikiran ini belum bisa difasilitasi oleh system CU yang ada sekarang. Sesungguhnya kalau pemahaman CU benar di anggota maka dia mestinya menumbuhkan CU dengan meminjam di CU, jadi bukan hanya mencari keuntungan sendiri, tetapi membawa kepentingan bersama dengan menyimpan maupun meminjam di CU, bukan meminjam tempat lain dan menyimpan di CU, ini pemikiran anggota yang bias.

Harapan Bapak ke depan untuk CU Betang Asi dalam konteks pengawasan bagaimana?

Harapan saya, kemajuan dari Betang Asi tergantung dari pengurus, manajemen dan anggota. Pada sisi pengawas dia hanya sebagai wasit, sebagai wasit sebenarnya tidak bisa bermain, tidak bisa menentukan kebijakan-kebijakan.

Saya juga mengharapkan satu, pengawasan ada dari kerelaan anggota atau elemen-elemen Betang Asi untuk menjaga Betang Asi bertumbuh dengan baik. Meski tidak berada pada struktur pengawas tetapi kita sebagai anggota kita ikut mengawasi hal-hal yang keliru baik pada anggota maupun pengawas. Semua anggota berhak untuk mengingatkan pengurus, manajemen, maupun anggota yang menyimpang, karena kerugiannya pada semua elemen CU.

Pada sisi regenarasi pengawas saya berharap terjadinya regenarasi yang membaik, artinya ada masuk elemen baru untuk berfungsi di dalam lembaga.

Dan ketiga kami berharap bahwa aspek manajemen maupun anggota tindakan berCUnya tidak menyulitkan para pengawas untuk melakukan pengawasan

Bisa dijelaskan lebih lanjut tindakan berCU itu?

Pada aspek mempergunakan fasilitas CU, misalnya meminjam di CU diharapkan memang berdasarkan kemampuan, jangan lebih dari kemampuan. Kita membayangkan kita mempunyai kemampuan tertentu, meskipun nanti ada kebijakan di bagian kredit untuk memutuskan bisa/ tidak, tetapi jauh lebih baik kalau kita sebagai anggota kita bisa mengukur kemampuan, tidak pada kemampuan maksimal, tetapi pada saat kita mengalami kesulitan sehingga tidak terjebak pada dilematis pengembalian pinjaman.

Jika kita punya pinjaman sementara tidak mampu mengembalikan pinjaman, sehingga barang-barang  kita harus kita korbankan. Nah kadang-kadang orang tidak mau barang-barangnya dikorbankan, artinya orang bisa mempergunakan CU dengan baik untuk menumbuhkan kesejahteraan maupun kemampuan keuangannya pada masa yang akan datang. Jika persentase 15% per tahun itu maka pada 5 tahun akan menjadi 2 kali lipat, pemahaman inilah yang harus dipahami oleh anggota, kalau dia mengalami kesulitan justru ini menjadi tidak tercapai.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, July 17, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved