Selamat Datang!

ANTONIUS ANYU: “Jangankan Kelompok Inti, orang-orang tua yang ngurus CU ini dulu belum tentu diurus!”

Kelompok inti adalah salah satu kunci sukses untuk mengembangkan Credit Union. Namun ironisnya semakin berkembang CU keberadaan kelompok inti ini seakan-akan dilupakan kerjanya. Mengapa ini terjadi?. Medio Juni 2010 Tim redaksi web cubetangasi.com berkesempatan untuk berdiksusi dengan Antonius Anyu, salah seorang aktivis dan  kelompok inti CU Betang Asi pada tahap awal berdirinya CU pada tahun 2003 lalu. Anggota CU Betang Asi yang bernomor BA. 100.154 ini menjawab tim web cubetangasi.com dengan santai, berikut petikannya.

Bagaimana keberadaan kelompok inti di CU Betang Asi?

Untuk hal itu saya tidak mengamatinya sampai sekarang, kan sudah beda manajemennya. Waktu dulu kan menggunakan manajemen mitra, bukan manajemen professional, kekawanannya yang tinggi sebenarnya, dulu orangnya sedikit, pokoknya tidak pakai kamu staf, kamu kelompok inti. Pikiran kita kan ini kita kerjakan ramai-ramai. Kalau sekarang saya melihatnya persoalan luas wilayah, pemahaman manajemen diklat yang mungkin dia hanya berfikir mengelola administrasi saja kan. Sehingga manajemen pada kelompok inti mungkin kurang  menjadi perhatian. Satu, yang jelaskan luasnya wilayah, tingkat saling kenal juga rendah. Kedua juga, orang dalam (internal) manajemen diklatnya juga pas-pasan, habis untuk ngurus data saja.

Perkembangan ke depan kan semakin luas dan memerlukan orang baru, seharusnya kekawanan ini tetap dipelihara, dan orang-orang baru ini bagaimana cara pengurus maupun manajemen untuk merekrut mereka nanti, komentar anda bagaimana?

Semakin besar CU kan semakin banyak kepentingan, yang jelas tidak ada yang memungkiri pula bahwa kelompok inti itu penting. Gesekan-gesekan itu kan terjadi, biasalah yang namanya orang yang belajar dapat duit itu kan sangat takut dengan kompetisi. Tetapi orang dewasa yang perusahaan besar itu memang mencari para competitor.

Menurut anda apa yang menyebabkan itu selain yang disebutkan tadi?

Agak susah menjabarkannya, tapi dari pengalaman saya ini akibat kepentingan yang berbeda. Ketika tingkat kepentingan di CU itu pengurusnya menyadarinya diorganisirlah baik-baik semua itu. Tapi ketika kepentingan itu melekat pada pengurus. Jangankan kelompok inti orang-orang tua yang ngurus CU ini dulu belum tentu diurus.

Menurut anda apa jalan keluarnya mengatasi masalah tersebut?

Ya, sekarang yang harus diperbaiki adalah metodenya. Dulu kan metode yang dipakai adalah metode pertemanan. Kelompok inti ini jangan di kelola oleh sentral (baca Kantor Pusat), tapi dikelola oleh TP masing-masing, baru kita berkompetisi antar TP. Sekarang kita lihat kelompok inti TP mana yang paling hebat?

Berarti ada kriteria-kriteria tertentu sehingga disebut hebat?

Barang itu kan alamiah. Kelompok inti TP yang bagus asetnya berkembang, kredit macetnya rendah, kebutuhan dan kepuasan anggota tertangani, kan sederhana saja mengukurnya.

Dengan kata lain anda sampaikan bahwa kelompok inti CU Betang Asi sekarang masing di tingkat KP saja?, belum diserahkan kepada TP-TP untuk mengelola?

Saya tidak tahu juga di CU Betang Asi, tapi fakta yang kita lihat ada tidak orang TP-TP mengelola kelompok inti?, ada tidak pengaturannya?, berapa orang kelompok intinya?. Pernah tidak mereka melihat kelompok inti kami seperti apa orang-orangnya?, jangan-jangan itu semua rekrutan basi saja, yang merekrutnya waktu terjadi ekspansi, ketika sudah berdiri TP disana orang-orang itu juga. Tapi karena ini direkrut oleh orang pusat mana dia tahu, yang tahu kan mereka di TP.

Selain itu ada tidak cara yang lain?

Ya, itu tadi kalau mau ngomong professional ini, kita ngomong kepentingan. Maksudnya begini kalau saya mau menyuruh dia professional kita harus menyediakan cost, kesempatan. Ketika cost dan kesempatan ini disediakan dan dia lebih baik dari saya, bukankah kepentingan berakhir?. Kepentingan ini tidak harus selalu duit sebenarnya tapi dengan hebatnya kawan itu dari saya, kepentingan sudah terganggu.

Seharusnya untuk berfikir maju dan berfikir positip itu harus jadi pemacu kita untuk menjadi lebih baik kan?

Itu tadi, tahapan orang belajar.

Seharusnya kita bukan membangun tembok kan tapi membangun jembatan?

Itu yang beda, kalau kita orang yang bekerja penuh kita aman saja melihat semua itu. Silahkan kau berkembang, aku juga lebih berkembang kan!. Tapi ketika para aktivis CU yang bekerjanya tidak penuh tidak punya kantor, akan berbeda, bisa saja kawannya lebih rajin.

Harapan anda ke depan untuk kelompok inti ini bagaimana sebaiknya?

Itu harus didiskusikan bagaimana seharusnya kelompok inti ini, kan perlu biaya, perlu anggaran, kan perlu dipikirkan bersama.

Kan diskusi ini akan terjadi apabila kepentingan kita bertujuan untuk mewujudkan visi/ misi CU Betang Asi, tapi kalau ada ketakutan-ketakutan di depan apakah ini bisa terjadi?

Akan beda, kalau manajemen yang mengurus kelompok inti, karena semakin besar CU, jaminannya makin kuat. Kalau itu masih diserahkan kepada aktivis, pengurus, kan pengurus ada periodenya. Kalau semakin hebat kelompok inti saya makin tesingkirkan toh. Saya pikir fair saja mengurus barang-barang  begini.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, June 16, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved