Selamat Datang!

TERTATIH-TATIH MELAHIRKAN KARTINI MODERN

"Dan, siapakah yang dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu, siapakah yang dapat mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu, karena haribaan itu manusia mendapatkan didikannya yang mula- mula sek ali."kartini1

Kalimat itu adalah petikan dari surat Kartini kepada Ny Ovink Soer dalam buku Door Duistermis tox Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang, halaman 40).

Riza Sofiana (16), siswi kelas XI SMA Kartini, bercita-cita menjadi desainer batik. Dia belajar dan mengasah kemampuan membatik dari ibu dan pendidikan di sekolah serta berambisi memajukan batik di desanya.

"Semua itu bakal terwujud jika dananya ada," kata Riza yang tinggal di Dukuh Ngropoh, Desa Ketagi, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Sabtu (18/4).

Peraih Juara II Lomba Membatik Tingkat SMA se-Jawa Tengah, adalah anak petani dan pembatik. Pangkat (45), ayahnya, baru berpenghasilan setelah panen, adapun ibunya, Suati (40), penghasilan rata-rata Rp 175.000 per hari.

Untuk meringankan beban orangtua, Riza membantu ibunya mempola motif sekar jagat kala waktu luang. Dua hari sekali selama tujuh jam, dia mampu menyelesaikan satu kain bermotif itu.

"Lumayan, dari satu kain, saya mendapat Rp 17.500," kata Riza. Riza adalah satu dari 246 siswa SMA Kartini yang berprestasi. Kepala sekolah dan para guru pengajarnya kerap memotivasi dia mengembangkan bakat membatik ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, ekonomi keluarga menjadi hambatan Riza meraih impiannya. Lebih mengenaskan lagi, Yayasan Pendidikan Kartini Rembang yang mengelola SMA Kartini, tidak mampu memberi beasiswa, karena masih mengandalkan kucuran dana dari pemerintah daerah.

Prestasi SMA Kartini lebih memprihatinkan lagi. Setiap kali ujian nasional, persentase ketidaklulusan siswa mencapai 30 - 40 persen. Meski begitu, SMA ini tetap eksis menyandang visi RA Kartini, "mengentaskan dan memajukan pendidikan perempuan", melalui pendidikan karakter dan keterampilan.

Gedung SMA Kartini berada di dekat Rumah Dinas Bupati Rembang. Gedung itu berlokasi 150 meter dari bangunan tua bergaya kolonial (kini Gedung Pramuka) yang digunakan RA Kartini untuk mengajar anak- anak perempuan.

Kepala SMA Kartini Rembang Endang Sriwahyuningsih mengatakan, sekolah yang berdiri tahun 1981 itu semula bernama Sekolah Keputrian. Namanya berganti SMA Kartini, karena ada penyusutan peserta didik perempuan.

Jadi, sekolah juga menerima siswa putra. Sekolah bernapaskan Kartini itu mendidik siswa dengan keterampilan yang pernah diajarkan RA Kartini, yaitu membatik, tata boga, menjahit, dan tata rias. Sesuai tuntutan zaman dan adanya siswa putra, bertambah keterampilan lain, seperti aplikasi komputer, ukir, sablon, dan internet.

Endang mengaku kesulitan melahirkan kembali "kartini". Alasannya, tuntutan pendidikan sekarang ini adalah prestasi di bidang intelektual. Prestasi itu terindikasi dalam ujian nasional.

Dulu, guru SMA Kartini mengajar dengan bersanggul dan kebaya. Mereka mengajarkan nilai-nilai hidup dan moral yang digeluti RA Kartini. Kini ajaran itu terselip di antara mata pelajaran lain.

"Hanya satu jam per minggu untuk pendidikan kepribadian, melalui Bimbingan Konseling," kata Endang. Untuk itu, para guru memantau dan memotivasi para siswa secara merata untuk mengembangkan bakat dan keterampilan. (HENDRIYO WIDI)

sumber: kompas; foto: wordpress.com




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, April 20, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved