Selamat Datang!

LAPORAN PERJALANAN LINTAS KALBAR-KALTENG (AKTIVIS CU BETANG ASI SEBAGAI PELOPOR)

terjebak di km3 balai berkuakPerjalanan darat pulau Borneo dari Barat ke Timur pernah dilakukan Anton W. Niewenhuis seorang Dokter Belanda pada tahun 1894 seperti yang dikutip dari harian Kompas pada bulan Pebruari 2009. Ekspedisi Kompas di awal tahun 2009 ini dimulai dari Nunukan (Kalimantan Timur) ke Desa Sajingan (Kalimantan Barat), namun kali ini tim CU Betang Asi melakukannya dari bagian Barat pulau Borneo ini ke bagian Tengah.


Perjalanan ini  sebagai bentuk solidaritas di Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCUK) serta memajukan gerakan ekonomi kerakyatan di tanah Borneo pada Minggu (10/1) dua orang aktivis di CU Betang Asi berangkat ke Pontianak melewati perjalanan dari Kalbar ke Kalteng.


Dengan menempuh jalan darat dari Pontianak ke Palangka Raya kedua aktivis CU Betang Asi tidak kenal lelah, semangat Isen Mulang (Pantang Mundur) terpancar dari wajah Jhonson Feri dan Yepta Diharja yang mengemudikan mobil Ford Everest. Saat di temui KR (14/1) setibanya ke Palangka Raya, Yepta panggilan hari-harinya menjelaskan, “Tujuan dari perjalanan kami adalah untuk mendukung gerakan ekonomi kerakyatan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah maka saya bersama Feri berangkat dan membawa mobil operasional BKCUK yang ada di kantor BKCUK di Pontianak”.


Mobil ini sudah dibeli oleh CU Betang Asi untuk menunjang kegiatan CU Betang Asi yang pelayanannya banyak di kampung-kampung dengan akses jalan yang belum memadai, untuk itulah mobil berjenis double gardan ini tepat untuk digunakan, jelas Feri.


Perjalanan kami dimulai dari Palangka Raya ke Jakarta dengan menggunakan pesawat pada pukul 14.00 siang dan tiba di Jakarta pukul 15.30 dari Jakarta menuju Pontianak berangkat pukul 19.00 dan tiba di Pontianak pukul 21.00 dan langsung menuju hotel Kapuas Dharma untuk beristirahat, kata Yepta.


Keesokan harinya, (11/1) pukul 08.00 pagi kami menuju kantor BKCUK dan menemui Anwar sebagai juru mudi di kantor BKCUK di jalan Gang Haji Mursyid I Pontianak, jelas Yepta. “Kami membawa mobil ke bengkel untuk diservis agar siap menempuh perjalanan jauh”, kata Ferry. Bersama Anwar sepanjang hari hingga pukul 15.00 sore servis mobil yang berwarna abu-abu metalik ini akhirnya selesai, tambah Feri. Pulang dari bengkel kami menuju hotel kembali untuk beristirahat, kata Yepta.


“Hari Selasa, (12/1), tepat pukul 05.00 pagi kami berangkat dari Pontianak menuju Tayan. Adapun rombongan yang berangkat, Anwar dan mertua lelakinya, Yepta, serta saya sendiri”, tutur Feri. “Waktu yang kami tempuh sekitar 3 jam hingga sampai penyeberangan sungai Kapuas di Tayan”, tambah Yepta. Dengan menggunakan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Silok, rombongan dibawa ke menyeberang sungai yang terpanjang di Indonesia ini selama 15 menit. Sesampainya di seberang kami langsung meluncur menuju kampung Balai Berkuak. Di tengah jalan, tepatnya di km 3 Balai Berkuak, kami mengalami kendala mobil terperangkap di jalan yang berlumpur dan selama 3 jam lebih kami berusaha untuk lepas dari jalan yang rusak ini. “Ternyata setelah Anwar mengutak-atik bagian mesin dari mobil, ada satu slang terlepas, yang berfungsi untuk menjalankan perseneling dobel gardan, dan setelah terpasang ternyata mobil dengan mudah melewati jalan rusak tersebut” jelas Feri dengan semangat.


Setelah terperangkap di km 3, melewati jalan menuju Balai Berkuak jalan cukup baik hingga tiba di Sandai pada pukul 17.00 sore. Anwar dan mertua lelakinya berhenti di kampung ini dan melanjutkan perjalanan ke kampung Menyumbung, Ketapang. “Selamat melanjutkan perjalanan, hati-hati di jalan ya!,” kata Anwar kepada Feri yang memegang kemudi setir. Setelah Anwar mengemas barang-barang bawaannya kami menyempatkan diri ke CU Canaga Atutn di Sandai.


“Silahkan masuk, minum kopi dululah” kata Abur staf CU Canaga Atutn yang membawa Yepta dan Feri untuk beristirahat. “Setelah 1 jam beristirahat, mengobrol tentang CU dan menanyakan jalan yang akan dilewati, kami melanjutkan perjalanan ke Nanga Tayap”, tutur Yepta. Hanya menempuh perjalanan 1 jam kami sudah sampai di Nanga Tayap. Matahari sudah merayap ke ufuk Barat dan perjalanan tetap dilanjutkan ke Kudangan, melewati kampung Betenung.


Feri melanjutkan, hambatan kami temui di jalan menuju Kudangan ini, jalan putus oleh air sungai yang meluap. Saya bersama Yepta akhirnya menggunakan jalan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk mencapai Kudangan. Tepat pukul 21.42  malam kami melewati tugu perbatasan Kalbar dan Kalteng. Tiba di Kudangan pukul 22.30 malam dan karena kelelahan kami memutuskan untuk beristirahat di Kudangan.


Rabu, (13/1) pukul 08.00 pagi mobil yang berplat KB 952 AK ini, kami pacu lagi untuk menuju Nanga Bulik ibukota kabupaten Lamandau, tutur Feri. Setibanya di Nanga Bulik rehat sebentar selama 1 jam, kemudian dilanjutkan melewati kampung Runtu, di persimpangan Runtu kami mengambil jalan ke arah kota Sampit sebagai ibukota kabupaten Kotawaringin Timur, matahari sudah berada di ufuk Barat, dan memasuki kota Kasongan ibukota kabupaten Katingan hari sudah malam, tepat pukul 20.00 kami tiba di kota Palangka Raya dengan selamat, tutur Yepta.


Total perjalanan kami hitung selama 22 jam dengan melintasi jalan yang cukup menantang, tambah Feri. Mengenai kondisi jalan, “Tidak ada kendala yang cukup berarti, hanya jembatan penghubung yang masih darurat, kita mesti hati-hati, namun apabila kita menggunakan mobil dobel gardan pada musim penghujan tentu kita bisa lewat”, ucapnya.  Cukup banyak kendaraan yang lalu-lalang seperti truk sawit, bis mini, sepeda motor dan kendaraan lainnya. Sepanjang perjalanan kami melintasi hutan-hutan yang masih cukup lebat kayunya dan ada beberapa ekor Beruang yang melintasi jalan sewaktu malam, pungkas Yepta.


Semoga perjalanan kali ini membawa inspirasi, semakin mengokohkan gerakan ekonomi kerakyatan di bumi Kalimantan dan semakin membuktikan bahwa jalan darat lintas bumi Borneo semakin baik (walaupun sulit).




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, February 3, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved