Headlines News :

Terbaru

OJK Akan Awasi Credit Union Mulai 2015

Written By rokhmond onasis on Thursday, February 19, 2015 | 11:41 PM

Bisnis.com, PONTIANAK - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan mulai 2015 akan mengawasi lembaga keuangan nonbank, seperti Credit Union yang tersebar di Provinsi Kalimantan Barat, kata Direktur Edukasi OJK, Lasmaida Gultom.

"Di Provinsi Kalbar Credit Union (CU) mengelola aset yang cukup besar dari dana simpanan masyarakat atau anggotanya," kata Lasmaida Gultom di Pontianak, Rabu (15/10/2014).

Dia menjelaskan yang menjadi permasalahan saat ini, apakah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mempunyai data seluruh koperasi di Indonesia, sehingga OJK harus memikirkan lagi, mekanisme pengawasan serta sumber daya manusia untuk melakukan pengawasan pada koperasi yang jumlahnya cukup banyak itu.

Menurut dia, koperasi tidak menjadi bagian yang diawasi oleh OJK, meski koperasi terus tumbuh dan berkembang di Indonesia termasuk di Kalbar, salah satunya Credit Union.

"Idealnya, yang mengeluarkan izin untuk mendirikan lembaga keuangan nonbank yang harus melakukan pengawasan," ungkapnya.

Dalam UU No. 1/2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro disebutkan, LKM (Lembaga keuangan masyarakat) berbentuk badan hukum atau perseroan terbatas atau koperasi dan pelaksanaannya diserahkan kepada pemerintah daerah (pemda), seperti gubernur, bupati atau wali kota atau badan usaha milik desa/kelurahan.

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Koperasi, Usaha Menengah, dan Kecil, universitas dan pesantren, untuk lebih membuka akses keuangan. Sehingga sistem seluruh kegiatan sektor jasa keuangan stabil, teratur dan akuntabel," ujarnya.

Perkembangan CU di Kalbar cukup pesat dan bisa dikatakan yang terbaik di Indonesia, tercatat ada 21 CU di Kalbar. Anggotanya lebih dari sejuta orang atau sekitar seperlima penduduk Kalbar yang jumlah keseluruhannya sekitar 5,2 juta orang.

Total aset CU hingga akhir 2011 lebih dari Rp3 triliun. Total aset ini setara dengan satu seperempat kali APBD Kalbar tahun 2012.

Pada 2010 tercatat tiga CU terbesar di Kalbar, yakni CU Lantang Tipo, CU Pancur Kasih, dan CU Keling Kumang, tercatat juga sebagai tiga CU terbesar di Indonesia.

CU Lantang Tipo merupakan CU tertua didirikan 1976 dengan anggota awal 27 orang, tahun 2010 CU ini memiliki 107.000 anggota dan tersebar di sejumlah kabupaten di Kalbar, dengan total aset sekitar Rp1 triliun.

Sedangkan CU Pancur Kasih, awalnya hanya memiliki 61 anggota dengan modal awal Rp167.000, pada April 2012, jumlah anggota CU Pancur Kasih mencapai 105.107 orang dengan total aset Rp1,217 triliun. Kemudian CU Keling Kumang, berdiri sejak 20 tahun lalu. Pada akhir 2011 CU ini memiliki 114.377 anggota dengan aset Rp650,26 miliar.

Sumber: http://finansial.bisnis.com/read/20141015/89/265246/ojk-akan-awasi-credit-union-mulai-2015

CU Betang Asi Kuala Kurun Gelar Rapat Anggota Tahunan

Written By rokhmond onasis on Friday, January 30, 2015 | 8:18 AM

Senin 26 Januari GPU Damang Batu dipenuhi ratusan masyarakat yang mengikuti Rapat Anggota Tahun Koperasi Kredit CU Betang Asi Kuala Kurun.

Kopdit CU Betang Asi yang merupakan koperasi daerah ini semakin tahun semakin diminati masyarakat Kabupaten Gunung Mas tampak terlihat dengan adanya 3 (tiga) tempat pelayanan Kopdit CU Betang Asi diantaranya di Sepang Kota, Kuala Kurun dan Tumbang Malahoi dan ada 3 (tiga) tempat pelayanan khusus yaitu di Tewah, Tumbang Talaken dan Tumbang Jutuh.

Hadir dalam acara Pembukaan RAT Kopdit CU Betang Asi mewakili Bupati Gunung Mas staf ahli Bupati Bidang Pemerintahan Siner, S.H, dalam sambutannya menyampaikan bahwa RAT merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pengurus dan manajemen yang wajib dilaksanakan sebagai wujud kedaulatan anggota melalui forum RAT yang merupakan forum tertinggi dalam pengambilan keputusan di organisasi koperasi.

Bupati Gunung Mas juga memberikan penghargaan dan apresiasi pada keberadaan Kopdit CU Betang Asi Kkuala Kurun yang telah banyak berkontibusi dalam upaya pemerintah untuk pemberdayan ekonomi, namun demikian dihimbau kepada penasehat, pengurus, pengawas, manajemen kolektor dan aktivis maupun anggota agar dapat terus menjaga komitmen dan kosistensi terhadap apa yang dicita-citakan oleh gerakan Credit Union.

Dalam kesempatan ini pula Bupati Gunung Mas berpesan : (1) terus melakukan inovasi dengan kreatif, memperbaiki dan mendekatkan pelayanan kepada anggota. (2) Agar fokus pengembangan kedepan adalah daerah-daerah pedalaman di Kabupaten Gunung Mas.

Bupati berharap agar Rapat Anggota Tahunan ini dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang baik dan konstruktif bagi kemajuan Kopdit CU Betang Asi dan kesejahteraan masyarakat.

(Bagian Humas dan Protokol Setda Gumas)

Sumber: http://www.gunungmaskab.go.id/berita/cu-betang-asi-kuala-kurun-gelar-rapat-anggota-tahunan.html

Jadwal RAT 2015

Written By rokhmond onasis on Tuesday, January 6, 2015 | 6:46 AM

“Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam CU; Rapat Anggota diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun”

Itulah salah satu pasal yang ada di Anggaran Dasar (AD) Kopdit CU Betang Asi. Bunyi pasal berikutnya adalah mengatur hak suara dalam rapat anggota.  Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dalam rangka pengurus  mempertanggungjawabkan pengelolaan organisasi dan usaha kopdit kepada anggota.

Anggota dewasa diharapkan berpartisipasi aktif untuk mendengar dan mengkritisi pertanggungjawaban pengurus juga pengawas. Menariknya tahun ini ada pemilihan pengurus/ pengawas yang akan dilaksanakan pada RAT Konsolidasi. Berikut jadwal RAT Kopdit CU Betang Asi untuk tahun 2015:

Informasi mengenai jam dan tempat yang lebih rinci, anggota dapat mendatangi kantor pelayanan terdekat.

Sumber gambar: http://www.romaincorraze.com

Perayaan Natal CU dan KPD 2014

Written By rokhmond onasis on Sunday, December 21, 2014 | 7:03 AM

“Natal adalah misteri karya Allah, apakah mesti damai?. Kita mengimani Allah berdaulat atas segala sesuatu, jika kita berpusat kepada Kristus yang telah lahir, maka kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Tetapi, jika kita berpusat pada manusia (baca tahta dan sarana) maka kita akan menjadi Herodes-Herodes baru yang menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan tahtanya”

Itulah kutipan khotbah yang disampaikan Pendeta Emeritus Maxliano Nahan, M.Th pada ibadah natal Kopdit CU Betang Asi dan KPD Kalteng, 20 Desember 2014. Khotbah yang disampaikan mengacu pada Matius 2: 16-18 berperikop ‘Pembunuhan Anak-Anak Di Betlehem’.

Acara yang dimulai tepat pukul 5 sore hingga 8 malam ini di hadiri lebih 200 undangan yang mengikuti ibadah maupun perayaan. Dimeriahkan oleh sanggar tari Tunjung Nyaho yang membawakan tarian Dayak Kalteng dan drama natal dalam nuansa lokal (berbahasa Dayak Ngaju dan Indonesia.

Usai ibadah, dilanjutkan dengan perayaan natal yang isi dengan sambutan dari ketua panitia, GM, ketua pengurus dan penyerahan bingkisan natal bagi mantan pengurus dan pengawas Kopdit CU Betang Asi.

Sambutan ini diselingi dengan pengundian door prize yang dipandu langsung oleh Desi sebagai pembawa acara. Sebanyak 20 doorprize disediakan panitia untuk berbagi suka cita natal. Natal dipusatkan di Aula Betang Sandehan, lantai -3 Pusat Pelayanan dan Pembinaan Iman Kristen, jalan Diponegoro No. 3 Palangka Raya.

Dalam laporannya, Andika Harianto sebagai ketua panitia menyampaikan bahwa di tengah kesibukan para panitia, acara dapat di siapkan dalam jangka waktu kurang lebih 1 bulan dengan melaksanakan rapat 4 kali. Ia mengatakan bahwa per tanggal 13 Nopember 2014 panitia ditetapkan SK pembentukan panitia.

Sedangkan Ambu Naptamis sebagai ketua pengurus mengatakan, ia terkesan dengan drama natal dan khotbah yang disaksikan. “Ini adalah natal kedua di tempat yang cukup representatif yang dilakukan bersama dalam keluarga besar Kopdit CU Betang Asi dan KPD Kalteng”, jelas Ambu. Terkait isi khotbah Ambu berkehendak insan CU dan KPD tidak menjadi Herodes-Herodes baru.

Para anggota CU dan KPD Kalteng dipuaskan dengan jamuan makan malam yang disediakan panitia, diselingi nyanyian vokal solo dari manajemen Kopdit CU Betang Asi. Semoga acara ini membawa berkat dan suka cita natal sehingga sub tema yang di dipilih panitia menjadi terwujud. “Nyatakan Damai dan Kasih Kristus dalam Kehidupan Keluarga, Solidaritas dan Kerja”.

Keterangan Foto: Pendeta Max, memberikan berkat Tuhan saat ibadah natal.

Sumber Foto: Rokhmond Onasis.

Rangkaian Kegiatan November- Desember 2014

Written By rokhmond onasis on Tuesday, December 9, 2014 | 8:09 AM

BP dan Budgeting TB 2015

Memasuki bulan November hingga Desember 2014 ini para pegiat Kopdit CU Betang Asi, harus bergerak dinamis untuk menyukseskan kegiatan Business Plan dan Budgeting TB. 2015 pada 17-19 Nopember 2014. Kemudian dilanjutkan pembekalan calon staf Kopdit CU Betang Asi 1-7 Desember 2014  dan lokakarya manual operasional dan pelayan produk Kopdit CU Betang Asi (Poljak 2015) pada 8-9 Desember 2014.

Dalam sambutannya saat pembukaan BP (17/11)  Ambu Naptamis mengatakan CU menjadi salah satu jalan memperkuat komunitas, sekarang cukup banyak orang Filipina dan Thailand datang ke Indonesia. “CU dapat memperkuat kita mengatasi kondisi dunia sekarang. Kita tetap jaga dan kembangkan CU dan salah satunya kita dimulai pada hari ini” tegas pria berbadan atletis ini.

Sebagai fasilitator kegiatan di percayakan kepada Antonius Anyu yang juga sebagai bendahara BKCUK Pontianak Kalbar. Selama proses 3 hari ini menghasilkan dokumen peta jalan Kopdit CU Betang Asi secara angka hingga Desember 2015 nanti.

Pembekalan Calon Staf

Dari tanggal 1-6 Desember 2014 ke-8 staf yang diterima sebagai calon staf adalah Randi Aryo, Chania Glausia, Ray, Yupersi, Yuliana Widyaningsih, Endo Rantelino Moredo, Greslia dan Jimi Feronika. Pembekalan ini dipusatkan di aula lantai-3 kantor Pusat Palangka Raya.

Kelulusan 8 orang calon staf  ini didasari dari hasil rapat panitia penerimaan staf Tahun Buku 2014 pada 28 November 2014 dengan nomor surat pengumuman 01/Pan.PSB/CUBA/PRY/XI/2014 yang ditandatangani oleh Ethos H, Lidin, SE sebagai ketua dan Leani, ST sebagai sekretaris.

Dalam pembekalan selama 5 hari tersebut fasilitator dipercayakan kepada Ambu Naptamis, Valentinus Jeghau, Gregorius D. Senun, Marchony, Andika Harianto, Ensy Veronika, Rokhmond Onasis dan Leani.

Adapun materi yang disampaikan terkait pengenalan dan pendalaman CU, diskusi tentang pemberdayaan komunitas, kebijakan kepegawaian dan administrasi staf, FGD tentang komunitas petani karet, perkreditan, sharing pengalaman survey/ penagihan, pembukuan dasar, diskusi tentang teknik memfasilitasi pendidikan CU dan pengembangan diri/ komunikasi.

Untuk me-refresh peserta, mereka diajak ke di rumah bambu, Buntoi, Pulang Pisau. Dengan jarak tempuh 2 jam dari kota Palangka Raya, Buntoi menjadi tempat untuk melakukan semi outbond dari pagi- siang pada Minggu, 7 Desember 2014.

Peserta yang dibagi menjadi 3-4 kelompok di ajak bermain sekaligus memperkuat team work oleh panitia dari permainan mengangkat/ menggiring bola dengan tali, menginjak balon, memindahkan karet dengan pipet, hula hup berjalan dan jam raksasa.  Acara ditutup dengan foto bersama dan penyerahan hadiah bagi para kelompok yang berhasil memenangkan permainan.

Lokakarya MO-PP

Sejumlah staf, pengurus, pengawas dan penasehat ikut terlibat dalam pembahasan draft manual operasional produk dan pelayanan Tahun Buku 2015. Acara yang dipusatkan di aula lantai-3 ini bertujuan  membahas isi dari MO-PP yang akan diterapkan tahun depan.

Selama 2 hari (8-9/12) kegiatan ini difasilitasi langsung oleh pimpinan manajemen kopdit CU Betang Asi, Ethos H.L. Dari pukul 9 pagi hingga 5 sore diskusi aktif di lakukan untuk membahas MO ini.

Semoga isi dari MO ini mencerminkan kepentingan anggota dan dapat dimaksimalkan untuk menjadi acuan bersama terkait produk dan pelayanan.

Sosialisasi Pengolahan Bokar Di Gunung Mas.

Written By rokhmond onasis on Monday, November 24, 2014 | 11:21 PM

Sebanyak 145 orang terlibat dalam sosialisasi pengolahan bahan olah karet (Bokar) bersih. Jumlah ini merupakan gabungan dari kampung Tumbang Baringei, Tumbang Kajuei dan Tumbang Kuayan, kabupaten Gunung Mas.

Kegiatan di fasilitasi oleh Lembaga Dayak Panarung (LDP) bekerja sama dengan kopdit CU Betang Asi Palangka Raya berlangsung secara estafet. Dimulai pada Rabu- Jumat, 5-7  Nopember 2014. Marchony dan Tevitius dari LDP memandu diskusi terkait pengolahan bokar.

Marcony menjelaskan LDP merupakan mitra CU yang bekerjasama untuk meningkatkan pendapatan petani karet yang merupakan anggota CU. Walaupun saat ini, petani karet mengalami penurunan penghasilan karena harga karet yang tidak menentu.

Dalam kegiatan ini juga Marchony menyampaikan tahapan cara pengolahan Bokar karet yang diinginkan oleh pabrik melalui kelompok yang sudah terbentuk. Dalam penyampaian materi tersebut, digunakan media gambar yang sudah disiapkan untuk memudahkan pemahaman peserta.

Dari informasi yang didapatkan penulis, tujuan dari pertemuan ini adalah untuk membentuk  sebuah kelompok usaha bersama (KUB) di bidang karet. KUB sebagai organisasi di tingkat desa yang akan menjadi tempat berkumpul dan menjadi jembatan bagi petani karet menjalin relasi dengan pembeli di tingkat pabrik. Kelompok usaha ini nantinya akan menjadi penjamin kualitas karet yang diperdagangkan ke pabrik adalah sesuai dengan syarat produksi yang ditetapkan oleh pabrik sehingga pendapatan petani meningkat.

Kegiatan ini cukup terbantu dengan adanya kerjasama yang baik antara kolektor dan staf CU yang ikut mendampingi. Valentinus Jeghau, Adit dan  Erwin Harefa ikut aktif dalam diskusi yang terjadi.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam pada masing-masing kampung di lakukan di rumah-rumah penduduk yang bersedia, bahkan ada yang dilakukan di gereja untuk menampung masyarakat yang 80% di dominasi sebagai penyadap karet. Kampung-kampung yang berdekatan ikut hadir seperti dari  kampung Luwuk Tukau, Mantuhe, Gohong, Tumbang Oroi, Tumbang Samue, Putat Durei dan Tehang.

Adapun pengurus-pengurus kelompok yang terbentuk sebagai berikut: Diron S. Gaman sebagai koordinator, Kurisanto sebagai bendahara dan anggotanya adalah semua anggota CU petani karet di Kampung Tumbang Kajuei. Di tempat yang sama, kelompok lainnya adalah Yuhanson sebagai ketua, Delvina sebagai sekretaris, Saernanti sebagai bendahara dan anggotanya adalah anggota CU petani karet dan masyarakat Tumbang Kajuei.

Di kampung Tumbang Kuayan Darmadi dipercaya sebagai koordinator,  Uga sebagai bendahara dan anggotanya adalah anggota CU petani karet dan masyarakat Tumbang Kuayan.

Di kampung Tumbang Oroi, Ria dipercaya sebagai ketua,  Suhardi sebagai sekretaris dan Manis sebagai bendahara. Sedangkan di Kampung Samui, Eko dipercaya sebagai ketua, Slamet sebagai sekretaris dan Herpi sebagai bendahara. Berikutnya di kampung Tehang, Triana dipecaya sebagai ketua, Tesu sebagai sekretaris dan Simpun sebagai bendahara.

Di Kampung Luwuk Lingkau, Titioe S. Aman dipercaya sebagai ketua, Ajo Milono sebagai sekretaris dan Herdijoyo sebagai Bendahara. Di kampung Putat Durei Rada Ikat sebagai ketua, Saprin sebagai sekretaris dan Upiana sebagai bendahara. Di kampung Mantuhe, Kastor sebagai ketua dan di kampung Gohong, Baheri sebagai ketua.

Mengutip sebuah kata bijak, jika kamu beri saya ikan, kamu sudah memberi saya makan untuk 1 hari; jika kamu ajari saya memancing, maka kamu sudah memberi saya makan sampai sungai itu tercemar atau garis pantainya menyusut karena pembangunan.

Namun, jika kamu ajari saya bagaimana berorganisasi, maka apapun tantangannya saya dapat bergabung dengan rekan-rekan saya dan kami akan berupaya mencari solusi kami. Semoga kelompok yang terbentuk semakin berdaya!.

Sumber tulisan: Diringkas dari notulensi dan laporan kegiatan.
Sumber foto: LDP.

Indonesia Lahan Potensial Mengembangkan Credit Union

Written By rokhmond onasis on Monday, November 17, 2014 | 6:14 PM

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah ACCU Forum, kata Wakil Presiden ACCU Romanus Woga (Rommy) dari Indonesia yang juga Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), disepakati pada September 2013 di Katmandu, Nepal. “Waktu itu ada beberapa negara yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah, namun akhirnya disepakati CUCO (Credit Union Central ) of Indonesia menjadi tuan rumah untuk ACCU Forum 2014,” jelas Rommy yang untuk kedua kalinya terpilih menjadi Wakil Presiden ACCU.

Dia mengaku, sebagai Ketua Umum Inkopdit, sekaligus sebagai Wakil Presiden Credit Union se Asia, mempunyai beban tanggung jawab untuk menjadi tuan rumah forum dunia yang baik, dan memberi kepuasan kepada tamu yang berdatangan dari 25 negara di dunia dengan jumlah peserta terdiri dari : Australia, 10 , Bangladesh, 40 , Cambodia, 2 , Canada, 7, China 1, Hongkong, 7, India, 2, Indonesia, 117, Korea, 10, Kenya/Afrika, 3, Laos, 4, Mauritius, 2, Malaysia, 20, Mongolia, 27, Nepal, 79, Philipina, 130, Rusia, 1, Singapura 22, Sri Lanka, 9, Taiwan, 5, Timor Leste, 9, Thailand, 50, Amerika Serikat, 1, Vietnam, 10, Myanmar 1, Staf dari ACCU Bangkok dan CUCO Indonesia dan dari Puskopdit Bali, 13. Total peserta seluruhnya berjumlah : 580 orang.

Walaupun Indonesia sebagai tuan rumah, tapi jumlah peserta paling banyak adalah dari negara tetangga, Phillipina, 130 orang. Indonesia jatahnya 150 orang, namun karena terlambat mendaftar, diisi dari negara lain. Yang terlambat mendaftar termasuk Puskopdit Flores Mandiri Ende, Puskopdit BK3D Sumatera Utara, Puskopdit Maluku, Puskopdit BK3D Timor, dll. Sedangkan Puskopdit Swadaya Utama mengutus peserta sebanyak 37 orang dari 10 kopdit primair, juga utusan pengurus dan pengawas serta manajemen dari Puskopdit.

Kegiatan tersebut dipusatkan di “Sanur Paradise Plaza Hotel, Bali“. Ada tiga bagian kegiatan yaitu: Workshop dari tanggal 14 – 17 September, disambung Open Forum, dari tanggal 17 – 20 September, dan pada 21 September Rapat Anggota Tahunan (RAT) ACCU. Untuk RAT ACCU, pesertanya terbatas yaitu Presiden dan CEO utusan dari negara-negara anggota ACCU, tiap negara hanya dibatasi 2 peserta. Open Forum, dibuka oleh Deputy Kelembagaan Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia, Drs.Setyo Haryanto. Para pembicara ahli Credit Union dunia, menambah wawasan dan pendalaman pengetahuan tentang pengelolaan credit union bagi para peserta. Mereka adalah: Mark Worthington dari Australia, Brian Bennet dari Amerika, Sylvain Barate dari Kanada, Paul Luchtenburg, Robby Tulus, Ranjith Hetiarachchi, dll.

Di sela kegiatannya yang sangat padat, Majalah UKM mendapat kesempatan wawancara dengan Prersident Association of Asian Confederation of Credit Union (ACCU) Simon A. Pereira, dari Bangladesh. “Tujuan kita sama, membantu sesama, menolong diri sendiri guna mencapai kesejahteraan melalui credit union. Karena itu perlu saling menguatkan, saling menolong dan bergotong royong untuk berkembang bersama,” pesannya.

Menurut Simon, Indonesia lahan yang sangat potensial untuk mengembangkan credit union. Jumlah penduduknya yang sangat besar, 250 juta orang. Karena Indonesia termasuk Negara-negara berkembang, masih banyak pendudukanya yang harus disejahterakan. “Sama seperti Bangladesh, kami masih harus kerja keras untuk mencapai sejahtera. Walau ada Grameen Bank, lembaga pemberdayaan berbasis keuangan khusus untuk mengentaskan kemiskinan, credit nunion tidak merasa tersaingi. Kami sama-sama ingin menuju sejahtera,” urai Simon yang dalam pemilihan pengurus baru dikalahkan oleh Dr Chalermpo Dulsamphant dari Thailand.

Dalam kebersamaan tidak cukup dengan slogan solidaritas saja, tetapi sungguh-sungguh saling peduli, dan mencari solusi terbaik bagi credit union yang masih mengalami perkembangan lambat. Harapannya, begitu credit union dibangun ingin cepat berkembang dan maju seperti dalam perencanaan. “Signs of growth – tanda-tanda pertumbuhan credit union di Indonesia masih relatif tinggi. Karena itu kepercayaan anggota harus terus ditingkatkan. Mereka percaya setelah melihat tata kelola,” jelasnya

Untuk mewujudkan credit union yang berkelanjutan, dengan cara meningkatkan kapasitas dan kapabelitas pengelolaan, terutama meningkatkan pemahaman dan keterampilan mengelola credit union sejalan dengan pertumbuhan aset dan keanggotaan credit union yang telah memiliki tata kelola. Ada standar tata kelola yang disebut good cooperative governance. Untuk mencapai tata kelola yang baik tidak mudah. Jika sejak awal sudah memulai dengan standar tata kelola yang baik, akan jauh lebih baik, karena akan semakin mematangkan kita untuk siap ke situasi besar. Kita harus sepakat bahwa credit union yang kita kembangkan harus tetap sehat, tetap berkembang secara berkelanjutan.

Credit union harus menjadi lembaga yang dipercaya oleh para anggotanya. Bahkan dihargai dan dikagumi oleh pesaing. Orang akan kagum pada credit union karena konsistensi dalam menjalankan prinsip dan nilai-nilai credit union yang terwujud dalam produk dan pelayanan kepada anggota. ACCU telah merumuskan 5 faktor kunci menuju credit union yang berkelanjutan. Ke-5 faktor tersebut harus dijalankan secara komprehensip, terintegrasi dan memperhatikan kekuatan keuangan. Indikatornya Pearls, dimana ada 13 indikator yang harus terus dikontrol, dimonitor sebagai standar keberhasilan.

Pertama efisiensi operasional. Bagaimana akan terjadi kekuatan keuangan kalau tidak ada efisiensi operasional. Efisiensi operasional ini tercermin dari keefektifan arus kerja, proses penyampaian pelayanan kepada anggota. Kedua, kepuasan anggota harus terus menjadi perhatian. Jangan sampai yang disebut kepuasan bermakna salah. Ketiga bagaimana posisi credit union bersaing di tengah masyarakat. Keempat, terciptanya kepuasan pengelola atau pegawai. Ada pertanyaan, kenapa ACCU hanya memunculkan kepuasan pegawai, tidak ada kepuasan pengurus pengawas. Karena dalam tata kelola credit union yang langsung berinteraksi dengan anggota adalah pengelola. Kelima, kunci menuju credit union berkelanjutan.

Untuk bisa melihat lembaga itu berumur panjang atau tidak, ada beberapa hal, antara lain; lembaga tersebut peka terhadap perubahan lingkungan atau tidak. Kondisi lingkungan bisnis sekarang sudah berubah. Maka credit union juga harus mengubah beberapa hal yang dijalankan credit union. Ada faktor kosesif, kesatuan yang utuh, memiliki indentitas yang kuat. Kalau tidak dipertegas dari dirinya, credit union rentan untuk menjadi tidak kohesif, tidak memiliki indentitas jelas, karena suka terpancing-pancing persaingan.

Lembaga yang bisa berumur panjang biasanya yang toleran, tidak terlalu ketat dalam beberapa hal. Juga menghindari terlalu banyak kontrol yang terpusat. Ada beberapa yang berlaku khusus, misalnya, tentang kredit mikro. Karena kondisi masyarakat masih sangat membutuhkan bantuan dan memang menjadi sasaran credit union prioritas pinjamannya adalah mikro.

Credit union seperti misi utamanya, perlu memberdayakan sumber-sumber internal, dan tidak harus menunggu ahli semua.Yang sudah mengalami pembelajaran bersama credit union praktekan. Kita juga harus semaksimal mungkin meminimalisir resiko. Ada kebebasan untuk melakukan apa saja yang dapat dilakukan untuk pengembangan credit union tanpa harus meyakinkan pihak ketiga sebagai penyandang dana. Selama credit union berpegang teguh mengandalkan swadaya, selama memaksimalkan potensi anggota untuk menghimpun dana, credit union tetap terhormat, tetap dipercayai anggota.

Credit union harus dibangun – dikembangkan dan diukur dari kesuksesannya dalam mengelola 4 perspektif, yaitu perspektif keuangan, keanggotaan, pelanggan, dan proses bisnis internal. Forum pertemuan memiliki fungsi strategis dalam upaya melakukan konsolidasi gerakkan untuk menyatukan langkah pengembangan bersama. Semangat kebersamaan yang dibangun, yaitu membangun semangat yang satu dan sama. Sebagaimana tubuh, anggota tubuh kita banyak, namun satu tubuh. Apa yang dirasakan oleh salah satu anggota, dirasakan oleh seluruh tubuh.

Keragaman merupakan modal besar bagi kita untuk melakukan lebih banyak inovasi baru. Semangat berbagi harus menjadi inti untuk mewujudkan gerakkan satu tersebut. Strategi yang diterapkan di satu credit union dapat pula coba diterapkan di credit union lainnya. Credit union harus saling bekerjasama – bersaudara -bersahabat. Saling menguatkan, saling menolong untuk berkembang bersama, membicarakan strategi bersama, untuk tujuan bersama, yaitu semua credit union sehat dan kuat – save and soundness. (mar).

Sumber berita: http://majalahukm.com/indonesia-lahan-potensial-mengembangkan-credit-union/

Sumber foto: http://assets.kompasiana.com/statics/files/1406349547298231050.jpg

AMAN Selenggarakan Seminar Peran Seni dan Pendidikan

Written By rokhmond onasis on Saturday, November 1, 2014 | 4:06 PM

Jarum jam masih menunjukkan 9 pagi. Kamis, 23 Oktober 2014 di salah satu ruang pertemuan di Hotel Aquarius Palangka Raya telah di penuhi sejumlah peserta yang mengikuti kegiatan ‘Seminar Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan di Kalimantan Tengah’. Begitulah isi spanduk yang terpampang di depan ruangan. Sebagai pembukaan sanggar Tari Sanggar Tari Balanga Tingang, ikut menampilkan tarian Masyarakat Adat Dayak usai dipanggil pembawa acara.

AMAN Kalteng bekerja sama dengan Institute Ungu, Jakarta melakukan seminar ini dalam 1 rangkaian kegiatan pementasan teater Subversif (23-24/10). Dalam penjelasannya Faiza Mardzoeki, selaku direktur mengatakan bahwa keinginannya untuk berbagi, bagaimana para pelajar dan mahasiswa ini merespon masalah-masalah penting seperti masalah lingkungan dengan cara seni. “Saya pikir mungkin kesenian tidak akan langsung bisa merubah sesuatu tapi saya pikir kesenian bisa menjadi teman bisa menjadi pendekatan yang cukup berarti untuk memperbincangkan mendiskusikan isu-isu penting,” kata perempuan penulis naskah ini teater ini.

Berkaitan dengan permasalahan masyarakat adat, dalam sambutannya Simpun Sampurna sebagai Ketua BPHW AMAN Kalteng mengatakan, Masyarakat Adat berada dan terlibat langsung dampak pada lingkungan. Salah satu contoh yang terlihat dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah, jika tidak dibayar maka orang tidak mau memadamkannya. Maka dari itu kearifan lokal dan inisiatif-inisiatif lokal sangat diperlukan dalam aktivitas menjaga lingkungan saat ini, namun saat ini praktek seperti ini yang  telah mulai berkurang, dibandingkan pada masa lalu.

“Apa yang terjadi di Kalimantan Tengah sangat mempengaruhi terhadap dunia bukan hanya di Kalimantan Tengah saja. Jadi harapan saya dari kegiatan ini bisa lahir kesadaran semua pihak arti pentingnya menjaga lingkungan,” harap Dadut panggilan sehari-harinya.

Karena kegiatan ini didukung oleh kedutaan Norwegia di Indonesia, Duta besarnya turut hadir menyampaikan sambutan. Stig Traavik, bercerita bahwa, bangsa Norway mempunyai pemahaman yang sama dengan konsep pohon kehidupan yang ada di Kalimantan. Juga dalam hal Budaya peduli lingkungan Bangsa Norway  hampir sama dengan Bangsa Dayak di Indonesia yang berkisah tentang Livelihood yang menceritakan tentang pohon kehidupan.

“Saya sangat bangga sekali karena Indonesia telah menampilkan karya seniman kami Hendrik Ibsen yang sangat terkenal. Teater malam nanti menggambarkan bagaimana budaya sisi modern dan sisi tradisional sangat berbenturan dan bagaimana cita-cita yang ingin kita dengar dan yang tidak ingin kita dengar dan siapa yang berpengaruh dan bertanggung jawab atas lingkungan serta siapa yang menerima dampak buruk langsung atas kerusakan lingkungan. Kesadaran dalam hal ini ketika anda mempunyai hak namun tidak bisa mengungkapkannya,” kata Traavik.

Ia melanjutkan bahwa, kondisi di sini beruntung  karena mempunyai pemerintah daerah sangat mendukung. Ini merupakan contoh yang baik sebagai upaya mendukung keadilan lingkungan. Traavik juga mengingatkan bahwa potensi kerjasama dari pihak yang peduli lingkungan dan pihak yang peduli kerjasama seperti Universitas Muhammadiyah Palangka Raya  yang memberikan tempat untuk pementasan.

Secara singkat, sebelum membuka acara secara resmi, Syahrin Daulay sebagai asisten II setda provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan sambutan. Selaku pemerintah provinsi menyambut baik untuk kegiatan ini karena diharapakan menghasilkan kesadaran dalam pentingnya menjaga lingkungan.

Sebelum masuk pada materi seminar, Dinda Kanya Dewi membacakan Puisi hasil karya Pelajar Palangkaraya. Puisi ini menggambarkan kondisi lingkungan di Kalimantan Tengah.

Pada panel pertama yang dipandu Yohanes Taka sebagai moderator, Simpun Sampurna dipercaya sebagai pembicara pertama. Ia membawakan materi Penyebab Konflik di Kalimantan Tengah, antara Perusahaan Perkebunan, Pertambangan dengan Masyarakat Adat yang Berdampak Terhadap Alam dan  Lingkungan.

Secara singkat, Dadut menggambarkan permasalahan yang terjadi dalam tata ruang, tumpang tindih antara kekuasaan pemerintah dengan kekuasaan adat. Kerusakan lingkungan dan sebagainya itu bersumber dari masalah Tata Ruang. Harapannya kedepan harus adanya pelibatan Masyarakat Adat dalam Penyusunan Tata Ruang sehingga mengecilkan konflik dan dapat menjadi solusi.

Pemateri kedua adalah Mastuati dari Lembaga Dayak Panarung (LDP). Aktivis perempuan ini mengajak peserta melihat dampak Industri ekstraktif tambang dan perkebunan di Kalimantan Tengah bagi perempuan dan masyarakat adat.

Mastuati mengingatkan dengan pertanyaan kritis. Apa yang kita lakukan agar perempuan dan masyarakat adat semakin kuat?. Beberapa hal dapat di lakukan dengan upaya advokasi, edukasi, kampanye mengenai Hak Azasi Perempuan dan Hak Azasi Manusia serta pengorganisasian agar perempuan dan masyarakat adat dapat bekerja secara kolektif.

Berikutnya, sebagai pemateri ketiga pada panel pertama adalah Marko Mahin sebagai Rektor Universitas Kristen Palangka Raya. Ia memaparkan Seni Budaya dan Pendidikan Pemerdekaan.
Marko menegaskan, peran seni budaya sebagai media pendidikan kritis, sehingga masyarakat bisa menggambarkan apa yang dipikirkan, menceritakan apa yang telah digambarkan dan mementaskan peristiwa hidup dan harapan hidup yang dialami tersebut, sehingga seni budaya bukan lagi hanya sekedar hiburan atau pertunjukan, bukan lagi alat penindasan dan media membangun kesadaran palsu baru atau menjadi alat penjinakkan kaum penindas tapi merupakan bagian dari proses menemukan transformasi baik dalam diri sendiri maupun dalam komunitas.

Hal penting lainnya pria yang masih sebagai pendeta aktif ini mengatakan seni budaya bisa menjadi tempat membangun kesadaran kritis tentang ketidakadilan dan penindasan, tempat membangun sikap kritis, percaya diri, semangat juang dan pemahaman atas apa yang membuat mereka tetap miskin, tergantung dan tertindas. Jadi masyarakat tidak hanya berfikir bagaimana dunia tetapi juga mampu berfikir bagaimana mengubah dunia.

Pada panel kedua  yang dipandu Faiza Mardzoeki sebagai moderator, Abdi Rahmat sebagai direktur Teropong diberi kesempatan pertama menyampaikan paparanya yang berjudul Memaknai Isu Kesenian, Lingkungan dan Pendidikan (Sebuah Refleksi).

Abdi mengatakan, kesenian sebagai ideologi lingkungan bukan merupakan sesuatu yang didorong-dorong, tapi merupakan sesuatu yang keluar sebagai keniscayaan bahwa lingkungan merupakan ideologi dari kesenian sehingga menempatkannya menjadi sesuatu yang memiliki posisi strategis. Kesenian harus dipulihkan maknanya sebagai sesuatu yang mengandung nilai, bukan hanya sebatas pada keterampilan, kepopuleran, dan tidak hanya skill. Jadi “Bagaimana Mengembalikan Makna Kesenian Merupakan Cara Ampuh Mempengaruhi Perbaikan Lingkungan?”.

Dari sisi akademisi berikutnya, Bismart Ferry Ibie sebagai  tenaga pengajar fakultas kehutanan universitas Palangka Raya mencoba melihat bagaimana pendidikan, lingkungan, media menjadi seni dan budaya.

Secara kritis, pria berkacamata ini mengatakan bahwa permasalahannya kita sering salah ketika mendidik. Ketika kita tidak bisa mengoptimalkan atau menggambarkan objek sesuatu yang kita ajarkan. Seni dalam pelajaran adalah ketika kita bisa mendeskripsikan suatu objek kedalam suatu gambar matematis. Guru dan Dosen sering membuat sesuatu yang gampang menjadi sulit agar kelihatan intelek oleh mahasiswanya, tapi seharusnya ini dibalik supaya yang sulit menjadi mudah.

Untuk memperkaya pemahaman peserta, panitia juga mengajak Matius Hosang dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah. Ia membawakan paparan berjudul
Peran Pemerintah Dalam Mendorong Dunia Seni Dan Pendidikan Untuk Perubahan Positif Partisipasi Masyarakat Dan Keadaan Lingkungan Di Kalimantan Tengah.

Acara yang berakhir pada pukul 1.30  siang ini diwarnai pertanyaan peserta antara lain dari Mardiana Deren, PEREMPUAN AMAN Barito Timur, Novi Angraiyati, Mahasiswa Universitas Kristen Palangkaraya, Andri Masijia, Produser Film Maker/ Lembaga ICC, Agus dari GMNI Palangkaraya, peserta dari Staff Pengajar di Universitas Kristen Palangkaraya dan Pemerhati dan Pelindung Satwa Kalimantan Tengah.

Sumber foto: Dokumen AMAN Kalteng dan http://www.institutungu.org

TOT Fasilitator CU Betang Asi 2014

Written By rokhmond onasis on Sunday, October 26, 2014 | 7:14 AM


“Anda dapat memiliki ide-ide brilian, tapi bila ide-ide itu tidak dapat anda kemukakan, hal itu tidak berarti apa-apa”. Tulisan dominan berwarna kuning ini memaksa penulis untuk berpikir sejenak dan mendalami maknanya, sesaat masuk ruang pertemuan.

Kalimat ini terpasang di bagian depan aula pertemuan lantai-3 kantor pusat Kopdit CU Betang Asi. Di bagian atasnya jelas tertulis kegiatan yang sedang dilakukan yaitu, Pelatihan Training Of Trainers (TOT) Fasilitator Credit Union Betang Asi Tahun 2014; Palangka Raya 22-24 Oktober 2014.

Ada 29 orang yang berasal dari Tumbang Hakau, Tumbang Manggu, Samba Danum, Sepang Kota, Hurung Bunut, Tumbang Sepan, Tuwung, Telok, Marikit, Petuk Liti, Kuala Kurun, Desa Mekar Jaya Pulang Pisau, Mantangai dan Palangka Raya. Kesemuanya berasal dari TP/ TPK Kopdit CU Betang Asi.

Sebagai fasilitator pelatihan di percayakan kepada Gregorius Doni Senun, Sekretaris pengurus, juga berpengalaman dalam memfasilitasi pendidikan CU. Goris, panggilan sehari-harinya ditemani Bambang Mantikei dan Yohanes Changking.

Selama proses 3 hari cukup banyak pengalaman dan pengetahuan yang diterima peserta terkait proses memfasilitasi pendidikan CU. Salah seorang peserta yang berasal dari Palangka Raya menceritakan pengalaman yang didapatkan. Peserta mendapatkan bagaimana cara memfasilitasi anggota. “Terkait TOT yang baru dengan kebijakan CU Betang Asi saya melihat banyak perubahan-perubahan metode penyampaian pendidikan dari yang dulu dengan yang sekarang, ada update kegiatan dan materi,” kata Tevitius.

Pria yang akrab dipanggil Tius ini melanjutkan, keterampilan yang dipelajari dalam TOT, mereka diberikan pengarahan dan masing-masing peserta mempraktekkan materi di depan kelas, dengan sebelumnya fasilitator memberikan coaching dulu. “Saya kebetulan mendapatkan materi dasar-dasar hukum Kopdit CU Betang Asi dan terkait kekurangan yang perlu diperbaiki sebaiknya peserta diarahkan fasilitator bagaimana cara menyampaikan, baru bisa dipraktekkan, terkait materi yang dibawakan,” jelas pria yang aktif di Lembaga Dayak Panarung, lembaga mitra CU ini.

Di tempat yang sama, saat penulis menanyakan ke peserta dari Petuk Liti, Pulang Pisau. Sri Susiyanti yang berasal dari TP Batuah Marajaki, menceritakan pengetahuan yang bertambah adalah di bidang fasilitator untuk menyampaikan ke masyarakat yang mau masuk ke CU Betang Asi. “Saya mendapatkan pengetahuan materi-materi yang akan disampaikan dengan maksimal kepada anggota yang baru sehingga dapat mengerti. Anggota yang mengerti dapat mengembangkan CU yang baik,” jelas Sri.

Namun di balik pengetahuan yang didapatkan, perempuan yang berprofesi bidan ini mengungkapkan kekurangan yang ditemui dalam pelatihan yaitu terbatasnya waktu menyampaikan pada praktek yang dilakukan.

Dari pantauan penulis di hari ke-3 menjelang penutupan, Yohanes Changking, mengatakan proses training selama 3 hari ini akan dilanjutkan dalam praktek menjadi co fasilitator. Ia berharap peserta TOT dapat mengambil peran dan buku panduan fasilitator dapat dipelajari kembali dan dikuatkan dalam praktek.

Dari sisi fasilitator, Goris berharap peserta yang mengikuti pelatihan dapat menjadi fasilitator dan dapat mengembangkan CU di wilayahnya masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya jadwal pendidikan yang di buat tidak dadakan setidaknya 1 minggu sebelumnya sudah dijadwalkan.

Harapan senada yang diungkapkan Tius dan Sri, bahwa calon-calon fasilitator dapat diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan sehingga yang dipelajari tidak hilang dan dapat dipraktekkan. Tidak kalah pentingnya ada pelatihan lanjutan untuk memantapkan materi-materi yang didapatkan.

Adapun peserta yang mengikuti pelatihan selama 3 hari adalah, Ida Nurani, Elka, Hansen, Frans P. Kalasa, Erlinae, Saliane, Sri Susiyanti, Susance, Ambun, Silviadiana, Apriyady L. Djaga, Rio Genesizkhel, Firento, Begin, Haga, Hendranto, Supratmanto, Andri, Misraim Neolaka, Tevitius, Heron Yovandhi, Erikson, Napinus Ayan, Adittya W. Yosep, Milo Karni, Agusianto, Thomas Fajar, Lili Veronika dan Pdt. Asplyn Golvin.

Selamat menjalankan pelatihan sesungguhnya pada peserta pendidikan CU di TP/ TPK masing-masing. Bagi alumni pelatihan TOT, pengetahuan dan keterampilan Anda ditunggu untuk diterapkan sehingga ide-ide itu dapat anda kemukakan!

Sumber foto: Dokumen Rokhmond Onasis.

Pelatihan Cash Flow Pra BP

Written By rokhmond onasis on Monday, October 13, 2014 | 1:55 AM

Bertempat di aula lantai-3 kantor pusat Kopdit CU Betang Asi, Pelatihan Cash Flow Pra Bussines Plan (BP) di pusatkan. Kegiatan yang difasilitasi oleh Antonius Anyu melibatkan semua peserta yang berasal dari manajer, kepala divisi, kepala bagian dan koordinator TP/ TPK se-CU Betang Asi.

Keterampilan dalam penyusunan cashflow diperdalam, mengacu pada standar manajemen akutansi. Dari ke 27 peserta yang mengikuti kegiatan selama 3 hari (10-12/10) tidak semuanya ikut secara penuh.

Semua peserta di wajibkan membawa laptop yang berisi cashflow dari masing-masing tempatnya bertugas. Semenjak pagi pukul 8 pagi hingga sore pukul 5 sore, semua peserta terlibat aktif mengisi tabel dan angka pada excel, sebagai gambaran perjalanan CU ke depan. Bahkan dari pantauan penulis kegiatan dilanjutkan hingga pukul 9 malam.

Dari penjelasan kepada penulis, Anyu sebagai fasilitator mengungkapkan jika ia diminta bantuan memfasilitasi di CU Betang Asi, dia akan datang. Ia menegaskan bahwa sebagai anggota dan mempunyai pinjaman dan simpanan di CU, ia mempunyai beban moral untuk datang.

Pria yang juga dipercaya sebagai bendahara BKCU Kalimantan, Pontianak menjelaskan seringkali dalam  pelatihan yang ia fasilitasi menemukan titik-titik lemah pada sumber daya manusia yang mengikuti pelatihan.

“Saya bukan auditor, tapi jika kebetulan membaca data saya harus beritahukan bahwa jika menemukan hal aneh akan saya tegur. Bedanya jika saya auditor saya akan komentar jauh-jauh hari dan bukan pada saat pelatihan,” jelas pria beranak dua ini.

Sebagai salah satu pengurus BKCUK, ia menilai cukup banyak pelatihan yang di fasilitasi oleh BKCUK untuk meningkatkan kapasitas auditor di CU. Anyu juga melihat ada tantangan yang dihadapi gerakan CU yaitu orang yang mengaudit belum punya standar tinggi.

Lebih dalam ia menjelaskan bahwa belum diterapkan standar audit untuk kapasitas manusianya. “Kalau standar format pelaporan audit ada di sediakan jaringan CU, tapi standar orang yang melakukan pekerjaan itu tidak ada, sementara CU semakin besar, tapi belum tentu kapasitas yang melakukan itu setingkat dengan besar lembaga CU,”jelasnya.

Hal lainnya menurut Anyu belum tersedianya pendidikan formal untuk peningkatan kapasitas dari CU, sistem pengkaderan yang belum ada. Salah satu solusi yaitu menggunakan jasa dari luar seperti akuntan publik. Seharusnya punya CU dengan standar pekerja yang bagaimana. “CU harus meningkatkan kualitas pekerja sehingga CU menjadi besar, ini mengacu juga pada pimpinan. Kalau pimpinannya stagnan, nyata kader di bawahnya mengikuti standar di atasnya,” tegas Anyu.

Sebagai catatan, peserta yang mengikut pelatihan adalah Yohanes Changking, Shiawan Etora, Elka, Erwin Harefa, Ezra Mardoni Lewi, Yuliani, Ellia Sujiyono, Yepta Diharja, Martha Sarimasayu, Syvester Suanda, Sri Wulan, Ensi Veronika, Yeyen Susanti, Merry Normawaty, Harti Rayani, Wardalely, Estie, Vetra Kasih, David Dibiciang, Herie U. Daud, Arpiano Udasco, Donny, Yosi Monalisa, Longgor, Junaidi, Memeiliana, Valentinus Jeghau, dan Yahya.
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa