Headlines News :

Terbaru

Rangkaian Kegiatan Juli 2014

Written By rokhmond onasis on Tuesday, July 22, 2014 | 10:06 PM

Pelatihan Etos Kerja
“Bekerja tidak berpatokan dengan jam, kesadaran mencintai pekerjaan,” itulah kalimat singkat yang keluar dari bibir pria beranak satu ini. Ia adalah salah satu peserta pelatihan etos kerja yang di gagas oleh Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCUK), Pontianak Kalbar.

Kepada penulis, Saluh menceritakan pelatihan yang dilakukan selama 4 hari dari tanggal 16-19 Juli 2014, ini difasilitasi oleh Antonius Alibata. “Saya terkesan karena fasilitator membawakan secara humoris diselingi dengan menyanyi lagu-lagu CU dan permainan sehingga tidak membosankan,” jelas staf diklat TP Betang Sinta Sepang ini.

Saluh menambahkan, pelajaran yang diterimanya mengajak untuk peserta belajar memberikan nilai-nilai yang positif tanpa memandang sisi luar orang lain, mengacu ke pimpinan kita supaya bernilai lebih tinggi. Umumnya pelatihan dimulai sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore, namun dalam pelatihan kali ini Antonius Alibata mengajak peserta melakukan senam pada pukul 7 pagi dan meditasi di malam harinya pukul 12 malam.

Dari 43 peserta tidak semuanya berasal dari CU di Kalteng ada sejumlah peserta yang berasal dari Kalimantan Timur, yaitu CU Sempekat Ningkah Olo. Sedangkan dari Kalimantan Tengah di wakili oleh CU Betang Asi, Remaung Kecubung dan Sumber Rejeki.

Kepada penulis, peserta pelatihan yang sempat ditemui, Shiawan Etora menceritakan, ia mendapatkan pemahaman tentang etos kerja, merubah kebiasaan menjadi lebih baik sehingga menjadi tepat waktu dan disiplin. “Metode yang dibawakan fasilitator sangat baik, di mix dengan game, salah satu contoh game adalah “win-win game” game ini diberikan pada hari ke-3, peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan mengajarkan kami tentang kebersamaan dan mengurangi sifat egois, belajar bersama, dengan perundingan untuk kepentingan bersama,” ungkap koordinator TPK Kasongan ini.

Membagikan dan menerapkan hasil pelatihan tentu lebih penting dari sekedar menambahkan pengetahuan untuk peserta. Semoga wisma Unio, Palangka Raya yang dipilih sebagai tempat pelatihan menjadi titik awal CU-CU semakin berkembang melayani anggotanya.

Pertemuan Fasilitator Pendidikan CU Besi
Berselang 1 hari usai mengikuti pelatihan etos kerja, sejumlah peserta mengikuti pertemuan fasilitator pendidikan Credit Union, yang dipusatkan di aula pertemuan, kantor pusat CU Betang Asi, Palangka Raya dari pukul 9 pagi hingga 4 sore.

Pertemuan yang dilaksanakan pada Senin (21/7) ini mengundang fasilitator yang berasal dari 8 TP. Dari sekitar 70 peserta yang diundang hanya dihadiri 47 peserta saja. Yohanes Changking sebagai manajer diklat dan litbang mengungkapkan bahwa ini adalah kegiatan yang di lakukan untuk mempertemukan, membangun pemahaman baru dan membagikan modul dan materi pendidikan CU yang telah diupdate. Selain Changking, pertemuan ini juga difasilitasi oleh Bambang Mantikei, sebagai wakil ketua-1 yang bertanggung jawab di bagian pendidikan.

Dalam sambutannya, Ambu Naptamis sebagai ketua pengurus merasa gembira karena pertemuan dapat dilaksanakan. Ia mengatakan bahwa ini menjadi sebuah reuni kembali, bertemunya fasilitator-fasilitator yang telah belajar bersama sejak pelayanan CU Betang Asi  dari tahun 2003 hingga sekarang.

Pertemuan ini menghasilkan tim kecil yang akan mematangkan poin-poin penting yang direkomendasikan dari usulan dan komentar peserta. Salah satunya adalah memfinalkan alat ukur daya serap peserta pendidikan CU dengan menggunakan pre test dan post test.

Sumber foto: Dokumen CU Betang Asi.

KPD Swalayan Nyaris Terbakar

Written By rokhmond onasis on Tuesday, July 8, 2014 | 5:24 AM

PALANGKA RAYA - Warga Jalan Rajawali Km 2, Palangka Raya sempat dibuat heboh dengan suara sirene armada pemadam kebakaran, Selasa (7/7). KPD Swalayan nyaris terbakar.

Tepatnya sekitar pukul 21.12 WIB, jajaran mobil pemadam baik dari Pemerintah Kota maupun swadaya memenuhi Jalan Rajawali dengan sasaran KPD Swalayan yang diketahui sempat mengeluarkan asap dibagian atas lantai 2.

Diduga, ada hubungan arus pendek menjadi penyebab munculnya api yang sempat menggosongkan plafon atap lantai 2 swalayan yang menjual kebutuhan rumah tangga tersebut.

Dani, salah seorang petugas pemadam kebakaran kepada Tabengan menyebutkan api tak sempat membesar, dan beruntung lagi, pihaknya sempat menjinakkan api yang diduga berasal dari hubungan arus listrik tersebut.

Tak ada kerugian yang berarti dalam kejadian ini. Namun hal menghebohkan ini sempat membuat macet Jalan Rajawali, lantaran banyaknya warga yang singgah ingin menonton peristiwa itu.wan
Copyright © 2012 Harian Umum Tabengan

Sumber: http://media.hariantabengan.com

Berkembang Berkat Credit Union Tilung Jaya

Written By rokhmond onasis on Friday, June 27, 2014 | 8:19 AM

Usaha yang dikelolanya, Galeri Busana Adat Dayak, berupa kerajinan tangan, membuat busana adat Dayak beserta asesoris pakaian adat. Usaha tersebut dirintis tahun 1992, tetapi masih kecil-kecilan, dan belum ditekuni secara serius. Ketika tahun 2001 Credit Union Tilung Jaya ikut festival yang digelar oleh Dewan Pastoral Paroki, Christin yang aktif dalam kepanitiaan memperoleh informasi sedikit tentang credit union.

Dalam suatu diskusi antara pengurus Credit Union Tilung Jaya dengan pengurus WKRI disepakati perlu diadakan sosialisasi credit union di kalangan WKRI. Setelah ada sosialisasi akhirnya banyak yang menyadari bahwa credit union itu baik adanya dan menghilangkan kekhawatiran tentang koperasi yang tidak berhasil. Christin semakin percaya bahwa credit union besar manfaatnya setelah mengikuti pendidikan dasar. Dan atas persetujuan sang suami dia mendaftarkan diri jadi anggota. Resmi menjadi anggota Credit Union Tilung Jaya 28 Februari 2002 dengan nomor buku 192.

“Setelah menjadi anggota ada harapan untuk terus menjalankan usaha, karena bisa meminjam modal,” jelasnya berterus terang. Dia mengaku, berwirausaha karena ingin membantu suami menambah penghasilan, membantu biaya adik-adiknya yang sekolah di kota kabupaten. Galerinya menyewakan busana adat, baik untuk pria, wanita, maupun anak-anak, lengkap dengan pernak-pernik asesorisnya. Biasanya banyak yang menyewa kalau ada hari-hari besar, Agustusan, Hari Kartini, hari besar keagamaan, festival, dan ada upacara adat penyamburtan tamu-tamu penting.

Waktu awal merintis usaha, karena modalnya minim hanya cukup untuk membeli bahan-bahan jika ada pesanan, yang sifatnya tidak menentu. Kondisi itu dijalaninya selama kurang lebih 7 tahun. Baru tahun 2002 titik terang mulai kelihatan. Karena ada prospek yang cukup menjanjikan, dan untuk mendapatkan permodalan tempatnya jelas, Credit Union Tilung Jaya, maka Christin membulatkan tekat untuk mengembangkan usahanya. “Sejak menjadi anggota Tilung Jaya, semakin semangat untuk menekuni usaha. Pesanan mulai banyak penyewaan juga meningkat,” tutur Christin yang kemudian modal Rp20 juta dari uang pribadi dan pinjaman dari Tilung Jaya.

Sebagai anggota, dia mengaku sudah 4 kali pinjam ke Tilung Jaya. Terakhir, 2013 pinjam Rp75 juta. Dana itu untuk pengembangan galeri Rp30 juta dan Rp45 juta lainnya untuk usaha penangkaran ikan arwana. Jenis barang yang diproduksi antara lain; baju manik, kayu manik, ikat kepala, topi manik untuk pria, rompi, taplak meja, tempat tisu, sarung, dompet, anting-anting, ikat pinggang, dan banyak lagi.

Kalau dulu mengawali usahanya ditangani sendiri, sedikit dibantu adik-adiknya yang masih sekolah, belum berani merekrut karyawan, kerjanya juga di ruang tamu dan ruang keluarga, mulai tahun 2000 setelah berkembang dia mulai menerima karyawan. Saat ini mempekerjakan 8 orang, sebagai karyawan tetap 4 orang, dan pekerja lepas 4 orang. Tempat usaha pun memiliki ruang khusus, tidak menyatu dengan ruang tamu.

Sistem penggajian pekerja dilakukan dengan dua cara; yaitu pada saat menyetujui suatu pekerjaan – order diberikan panjar, dan sisanya dibayar setelah pekerjaannya selesai. Atau upah diberikan setelah pekerjaan selesai. Besarnya upah disesuaikan dengan volume pekerjaan. Contoh, untuk pembuatan baju manik upahnya Rp1,5 juta per baju, untuk kain Rp2 juta, selendang manik Rp250.000,- syal manik Rp100.000,- dan untuk gantungan kunci Rp30.000,- Pemasaran dilakukan melalui informasi saat arisan kantor, arisan Dharma Wanita, arisan WKRI, arisan lingkungan dan melalui pengurus dan staf Tilung Jaya. Barang-barang hasil kerajinan dipajang – disiapkan di ruangan galeri berukuran 4 x 5 meter. (my)

Sumber: http://majalahukm.com; Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com dan http://www.indonesiakaya.com

9 CU Ikuti Pelatihan Kinerja Pengurus

Written By rokhmond onasis on Friday, June 6, 2014 | 2:30 AM

Bertempat di hotel Victoria Banjarmasin kegiatan bertajuk ‘Pelatihan Evaluasi Penilaian Kinerja Pengurus’ di lakukan. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (2-4/6) ini di fasiltasi oleh bendahara Puskopdit BKCU Kalimantan, Antonius Anyu dan Anggota Pengawas BKCU, Gregorius Doni Senun.

Hotel yang terletak di tepian sungai  Martapura, Kalimantan Selatan ini di penuhi oleh 46 peserta pelatihan. Ada 8 CU di regional Kalimantan yang ikut terlibat. Bahkan 1 CU dari District Office wilayah Barat, CU Sabhang Untung dan 1 CU dari DO wilayah Timur, CU Mototabian Sedangkan ke 8 CU lainnya adalah CU Betang Asi, Daya Lestari, Sumber Rejeki, Remaung Kecubung, Femung Pebaya, Eka Pambelum Itah dan Sempekat Ningkah Olo.

Terungkap bahwa dari 9 CU yang mengikuti kegiatan 5 CU belum melakukan penilaian kinerja. Menurut Anyu penilaian ini penting dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat prestasi terakhir yang dicapai, kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki dan sebagai dasar memberikan penghargaan yang berkaitan dengan kontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Selama 3 hari pelatihan Anyu panggilan akrabnya mengajak peserta  pelatihan untuk melakukan evaluasi, penjelasan fungsi, tugas dan tanggung jawab pengurus, anggota menjadi arah utama dari semua kebijakan yang dibuat, berbagi  informasi dan pengalaman sesama CU.

Salah seorang peserta pelatihan dari CU Betang Asi, Leani menceritakan dari kelemahan yang ditemukan selanjutnya upaya apa yang harus pengurus lakukan guna mengatasi kelemahan tersebut. “Adapun dari kekuatan yang sudah dimiliki, pengembangan apa yang harus dilakukan untuk semakin baik,” jelas deputy GM CU Betang Asi ini.

Seminggu sebelum peserta tiba di di hotel bintang 3 ini, diketahui bahwa peserta harus mengisi  pra pelatihan. Tugas ini  diberikan untuk dikerjakan secara pribadi, selanjutnya didiskusikan dalam 1 kelompok, dibahas dalam pleno hingga didapatkan 5 isu utama dari kelemahan pengurus.

“Dalam 3 tahun terakhir ini CU Betang Asi masih lemah pada aspek belum dilakukannya penilaian kinerja, belum adanya panduan dalam Rencana Tidak Lanjut (RTL), penyusunan jadwal penilaian kinerja yang tertunda,” ungkap Leani.

Menariknya dalam pelatihan kali ini di hari terakhir bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) CU Daya Lestari ke-13. Perayaan secara sederhana disiapkan panitia pelatihan dari Puskopdit BKCU Kalimantan District Office wilayah Tengah. Lilin berangka tiga belas di atas kue yang berlapis coklat dan gula menjadi simbol perayaan ulang tahun.

Semoga pelatihan kali ini membawa refleksi ke aksi yang nyata bagi anggota bukan habis di hotel-hotel be-AC dan membangun pemahaman baru bagi pengurus, pengawas, staf dan tentu bagi anggota.

Sumber foto: dokumen CU Betang Asi.

Seluruh Isi UU Koperasi Bertentangan dengan UUD 1945

Written By rokhmond onasis on Wednesday, May 28, 2014 | 8:14 AM

Mahkamah Konstitusi memutuskan menyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mengikat seluruh isi Undang-Undang No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian (UU Koperasi). Demikian disampaikan Ketua Pleno Hamdan Zoelva yang didampingi para hakim konstitusi lainnya, dalam sidang pengucapan putusan uji materi UU Perkoperasian—Perkara No. 28/PUU-XI/2013, Rabu (28/5)  pagi.

“Amar putusan, mengabulkan permohonan Pemohon III, Pemohon V, Pemohon VI, Pemohon VII, dan Pemohon VIII,” ujar Hamdan Zoelva. Pemohon III adalah Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati), Pemohon V adalah Pusat Koperasi BUEKA Assakinah Jawa Timur, Pemohon adalah VI adalah  Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Pemohon VII adalah Agung Haryono (Anggota Koperasi Pegawai Republik Indonesia Universitas Negeri Malang) dan Pemohon VIII adalah Mulyono, pensiun pegawai Telkom di Bojonegoro.

Menurut Mahkamah, membatasi jenis kegiatan usaha koperasi hanya empat jenis telah memasung kreativitas koperasi untuk menentukan sendiri jenis kegiatan usaha. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan ekonomi, berkembang pula jenis kegiatan usaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomis manusia. Ketentuan tersebut tidak sesuai dengan aspek empirik dari kegiatan usaha koperasi yang telah berjalan. Artinya, dengan ketentuan tersebut koperasi harus menutup kegiatan usaha yang lain dan harus memilih satu jenis saja kegiatan usahanya.

Mahkamah melanjutkan, banyak koperasi serba usaha (multi purpose cooperative) justru berhasil. Apalagi untuk koperasi berskala kecil, tidak mungkin mendirikan koperasi hanya dengan satu jenis usaha tertentu, melainkan harus merupakan koperasi serba usaha, baik karena keterbatasan modal, pengurus, anggota, dan jaringan. Oleh karena itu, jika pembatasan jenis usaha koperasi diberlakukan, hal ini dapat mengancam fleksibilitas usaha dan pengembangan usaha koperasi.

Menurut Mahkamah, membatasi jenis usaha koperasi dengan menentukan satu jenis usaha koperasi (single purpose cooperative) bertentangan dengan hakikat koperasi sebagai suatu organisasi kolektif dengan tujuan memenuhi keperluan hidup untuk mencapai kesejahteraan anggota. Koperasi sebagai usaha bersama, seharusnya diberi keleluasaan berusaha tanpa membatasi satu jenis tertentu.

Hal tersebut bukanlah berarti tidak boleh mendirikan suatu koperasi dengan satu jenis usaha tertentu, melainkan sangat tergantung pada kehendak para anggota sesuai kebutuhan yang dihadapinya. Hal ini pun berlaku pada Perseroan Terbatas (PT), yang dalam UU PT tidak membatasi jenis usaha setiap satu PT harus satu jenis usaha. Lagipula, salah satu fungsi koperasi adalah merasionalisasi ekonomi dengan memendekkan jalur perekonomian sehingga dapat mensejahterakan anggotanya. Fungsi ini tidak akan dapat tercapai jika ada pembatasan jenis usaha. Dengan demikian dalil para Pemohon beralasan menurut hukum.

Selain itu, menurut Mahkamah, filosofi UU Koperasi ternyata tidak sesuai dengan hakikat susunan perekonomian sebagai usaha bersama dan berdasarkan asas kekeluargaan yang termuat dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. Di sisi lain koperasi menjadi sama dan tidak berbeda dengan PT, sehingga hal demikian telah menjadikan koperasi kehilangan ruh konstitusionalnya sebagai entitas pelaku ekonomi khas bagi bangsa yang berfilosofi gotong royong.

Sementara itu, salah seorang Pemohon bernama Wigati Ningsih, menyatakan kegembiraannya dengan putusan MK terhadap uji materi UU Perkoperasian tersebut. “Ada beberapa permasalahan dari UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Bahwa koperasi itu disamakan dengan PT. Termasuk juga permodalan, penyertaan permodalan dari luar. Dengan adanya permodalan dari luar, tidak lagi keuntungan koperasi jadi milik semua anggota, tetapi menjadi milik pemodal,” jelas Wigati. (Nano Tresna Arfana/mh)

Sumber berita: https://mail.google.com
Sumber gambar: http://www.ilmusipil.com

Berita terkait:  http://www.tempo.co/read/news/2014/05/29/063581004/MK-Batalkan-UndangUndang-Perkoperasian dan
http://www.tempo.co/read/news/2014/05/29/090581045/UU-17-Tahun-2012-Bikin-Koperasi-Hilang-Jati-Diri-

CRM CU = Care Responsibility to Members

Written By rokhmond onasis on Saturday, May 24, 2014 | 12:57 AM

Kepedulian terhadap kehidupan dan proses hidup anggota adalah proses kegiatan dari pengelolaan Credit Union.

Credit Union (CU) tidak hanya berfokus pada Money tetapi juga Moral  (Money and Moral Anggota). Hal inilah yang membuat CU berbeda dengan lembaga lainnya. Prinsip menolong anggota dengan memberlakukan prinsip anggota menolong dirinya sendiri tak jauh berbeda dengan metoda kegiatan di sebuah paguyuban, arisan, atau kelompok/organisasi lainnya. Yang membedakan CU adalah bagaimana CU mengajarkan pengelolaan keuangan, membantu anggota merencanakan pemenuhan kebutuhan masa depan,

Apa sih CRM?

CRM (Customer Relationship Management) diartikan sebagai satu kesatuan penjualan, pemasaran dan strategi pelayanan yang mencegah terjadinya aktivitas pekerjaan yang tidak terkoordinasi antar bagian dengan baik dan itu tergantung pada aksi – aksi perusahaan yang terkoordinasi (Kalakota, 2001).

CRM (Care, Responsibility to Members) di CU lebih difokuskan pada penerapan kepedulian akan perencanaan masa depan kehidupan anggota. Jadi yang menjadi aktivitas CRM CU yaitu pelayanan, kepedulian, kualitas hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan. CRM diharapkan membantu anggota menyelesaikan masalahnya, terutama masalah keuangan serta kepedulian terhadap peningkatan kualitas anggota baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bagaimana menerapkan CRM di CU?

Prinsip penerapan CRM di CU tidak hanya terbatas pada front line, diklat, kredit, dan kasir melainkan seluruh unsur pengelola, Pengurus, Pengawas, dan juga anggota.

Secara sederhana untuk menerapkan CRM kepada anggota dan sesame anggota yaitu :

1. Kenali Anggota

2. Analisis kebutuhan anggota

3. Bantu anggota menemukan tahapan kehidupan yang akan mereka hadapi

4. Ilustrasikan kemungkinan yang akan muncul

5. Bantu anggota untuk mengerti dan memahami produk yang disediakan CU

6. Berbagi pemahaman manfaat produk di CU untuk membantu anggota mencegah dan menghadapi persoalan yang mungkin anggota alami.

7. Tawarkan produk yang disediakan yang sesungguhnya menjadi jawaban bagi anggota untuk mempuat perencanaan kehidupannya.

8. Buat dokumentasi Knowledge Member

9. Berikan senyum, salam, sapa secara tulus (“bukan dibuat-buat”) kepada setiap anggota yang dijumpai.

Ada empat kemampuan utama dalam strategis CRM yaitu : 1) Technology ( teknologi ), Teknologi yang mendukung CRM; 2) People ( Manusia ), Kemampuan manusia serta sifatnya dalam mengelola CRM; 3) Process ( Proses ), Proses perusahaan yang digunakan untuk mengakses dan berinteraksi dengan pelanggan untuk mengetahui kebutuhan serta memenuhi kepuasan pelanggan; dan 4)    Knowledge and Insight ( Pengetahuan dan Wawasan ), Memberikan masukan pada perusahaan dalam memberikan nilai pada data pelanggan sehingga mereka membutuhkan pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan hubungannya dengan pelanggan.

“Pelayanan terbaik hanya diperoleh atas ketulusan”

Sumber berita: http://puskopditbkcukalimantan.org/index.php/berita-cu
Sumber foto: http://annegilesclelland.typepad.com

YTS Lakukan Pendampingan Kelompok Peternak

Written By rokhmond onasis on Tuesday, May 13, 2014 | 6:03 PM


Bertempat di kampung Sei Gohong dan kelurahan Banturung kegiatan pendampingan kelompok peternak ikan di laksanakan. Di salah satu rumah anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) pembuat pakan ternak di Sei Gohong dan Banturung, Tangkiling dilakukan pembuatan pakan ikan.

Anggota kelompok yang sebagian besar anggota CU Betang Asi ini sepakat untuk memutuskan setiap minggu melakukan pembuatan pakan ternak ikan. Menurut Frind Imanuel, secara hitung-hitungan pembuatan pakan ternak ikan ini memangkas lebih dari 50% jika di beli di toko pakan ikan kualitas nomor satu.

“Jika anggota kelompok membeli pakan sudah jadi seharga 12-13 ribu rupiah perkilo, maka dengan membeli bahan baku dan melakukan pembuatan pelet (baca digiling bersama), maka hanya 5-6 ribu per kilo, cukup banyak pemangkasan biaya,” jelas pria yang bekerja di Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) ini kepada penulis Rabu (7/5) lalu.

Dari pantauan penulis bahan baku dedak, kepala udang, di campurkan secara merata di atas terpal yang sudah di paparkan sebelumnya halaman rumah. Salah seorang ibu yang ditemui penulis menceritakan kemudahan yang diterimanya saat bergabung di kelompok.

Pancar adalah salah seorang ibu yang tinggal Sei Gohong. Ia tergabung dalam kelompok dampingan YTS sejak tahun 2000-an. Ibu yang mempunyai 3 kolam ikan ini merasa cukup terbantu dengan adanya pembuatan pakan ini.

“Saya membeli hanya seharga 5 ribu per kg, jika dibandingkan membeli di toko pakan harganya 12-13 ribu per kg. Sehingga dapat mengatasi kendala yang paling utama dalam pemberian pakan yang kami terbarkan untuk kolam kami sendiri, setidaknya kami dapat 20-25 kg sekali menggiling,” cerita Pancar.

Walaupun baru berjalan 1 bulan di Sei Gohong, Pancar mengungkapkan sangat terbantu. Ia mengakui telah ikan yang dipeliharanya di kolam terpal cukup banyak  peminatnya, bahkan pembeli datang sendiri untuk membeli di kolamnya secara langsung.

Dari proses pembuatan pelet ini, informasi yang diterima penulis bahwa penjemuran dilakukan 1-2 hari untuk cuaca yang panas. Pakan yang sudah kering dalam 1 hari diberikan ke kolam ikan pada pagi dan malam harinya.

Terkait mesin untuk menggiling, Frind mengungkapkan ini adala salah satu komitmen dari YTS untuk membantu masyarakat. Harapannya  anggota CU yang dibina, ketika melakukan kredit di CU mesin ini dapat menekan biaya produksi pakan dan meringankan mereka dalam membayar angsuran di CU.

Ditempat berbeda, CU Betang Asi ikut mendampingi Frind ke Banturung. Kelurahan yang berjarak tempuh 30 menit dari kota Palangka Raya ini mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak.

Dari CU Betang Asi, Leani, Yosi Monalisa dan Asep Nana Sumpena yang ikut mendampingi sejak pagi hingga siang mengamati proses pembuatan pelet yang dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di kelurahan Banturung pada Jumat (9/5) lalu.

Proses di mulai dengan membersihkan mesin pembuatan pelet sekaligus melakukan pemanasan untuk mesin. Berikutnya sebanyak 2 karung dedak padi seberat 85 kg di ditebarkan di atas terpal, ½  karung kepala udang dan ikan asin serta ½  karung bungkil sawit.

Pencampuran menggunakan cangkul dan sekop yang dilakukan secara berlahan. Jika sudah tercampur, maka dilanjutkan dengan pencampuran air menggunakan gembor (alat penyiram air) sampai kekentalan dirasa cukup. Peremasan bahan pelet dilakukan menggunakan tangan. Bahan yang di remas tidak pecah ketika diremas ini menandakan pencampuran air di hentikan.

Salah seorang ibu yang enggan disebutkan namanya menceritakan bahwa usai dilakukan penggilingan, selanjutnya bahan di jemur di bawah terik matahari. “Jika saya beli di pasar harganya 12-13 rb per kg. Sedangkan jika dibeli bahan bakunya dibuat sendiri seharga 5 ribu per kg”, ungkapnya.

Menurut Frind Imanuel, dalam KUB yang dibentuk sudah membuat Standart Operasional Prosedur (SOP) untuk masing-masing tahapan, dari pembersihan mesin, pembuatan bahan baku hingga pemasaran. “Nama KUB yang ada di Banturung ini adalah Katunen Jaya. Hasil dari pembuatan pakan di timbang dan pengaturan persentase pembelian dari 5 ribu per kg di bagi sesuai SOP yang telah dibuat,” tutur pria yang juga membantu CU sebagai kolektor di Tangkiling dan sekitarnya ini.

Ke depan diharapkan anggota CU yang melakukan wirausaha serupa membuat kelompok sehingga pendampingan dapat dilakukan secara optimal. Jika anda ingin mengcopy film terkait pembuatan pelet ini silahkan menghubungi bagian pendidikan CU di kantor pusat Palangka Raya.

Sumber foto: dokumen CU Betang Asi.
***


Setelah Membuka Diri Stella Maris Berkembang Pesat

Written By rokhmond onasis on Sunday, May 4, 2014 | 7:11 AM

Umat Gereja Stella Maris, atau umat-umat gereja lain kalau mengalami kesulitan ekonomi biasanya datang ke Paroki mencari bantuan. “Di dalam benak mereka yang namanya Paroki – Pastor itu banyak uang untuk menyelesaikan masalah mereka,” tutur Maria Sukarni, Manajer Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Stella Maris, mengawali perbincangannya dengan wartawan Majalah UKM, beberapa waktu silam.

Menyadari begitu banyak umat gereja yang membutuhkan bantuan, Pastor Paskalis Soedirjo OFM Cap, Pastor Paroki Stella Maris melontarkan ide mendirikan Credit Union di lingkungan Paroki Stella Maris. Salah satu alas an perlunya dibentuk Credit Union di lingkungan Paroki Stella Maris, kenyataan yang sering terjadi ada umat kesulitan mengurus penguburan jika ada yang meninggal dunia. Kematian itu rahasia Tuhan, orang tidak bisa memperkirakan, kecuali bunuh diri tidak direncanakan, tetapi semua orang akan mengalaminya. Karena tidak direncanakan, cukup banyak umat yang kesulitan biaya mengurus penguburannya.

Gagasan mencari jalan keluar mengatasi kesulitan umat itu kemudian dibahas dalam rapat Dewan Pengurus Pastoral Paroki Stella Maris. Karena kebetulan dekat dengan Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Pancur Kasih, kata Maria, berkoordinasi dengan mereka, bagaimana kalau Paroki Stella Maris membuat organisasi ekonomi yang bisa menjawab kebutuhan ekonomi umat.

Sebelum membentuk lembaga keuangan untuk menjawab kebutuhan umat, para tokoh sudah mengadakan rapat-rapat kecil untuk menentukan strategi ke depan. Karena belum paham yang namanya strategi planning, maka diajaklah para aktivis Pancur Kasih yang memang sudah sangat paham bagaimana mengelola credit union. Sebelum membentuk lembaga secara resmi diadakan pendidikan dan motivasi di kompleks gereja. Bagi umat yang tertarik dipersilahkan datang. “Walau hanya diumumkan di gereja, cukup banyak yang datang,” jelas Maria, yang waktu itu sebagai tenaga sukarela dikasih makan saja sudah senang.

Sebagai lembaga baru, resminya didirikan pada 1 Februari 1995, oleh 25 orang, kata Maria, yang awalnya sebagai tenaga sukarela, ada saja umat yang tidak setuju. Alasannya, gereja mengurusi kematian. Komentar miring itu karena ketidakpahaman mereka. “Kalau mau maju kita harus berjuang terus. Karena itu pengurus terus menerus mensosialisasikan kepada umat,” kata Maria seraya menambahkan, bahwa untuk mengamankan uang anggota ditipkan ke Kopdit Credit Union Pancur Kasih. Kebetulan, lokasnya berdekatan.

Karena awalnya hanya fokus pada umat Paroki, perkembangan Stella Maris tersendat-sendat, jalanya sangat lambat. Terlebih lagi karena dikelola secara sambilan, sementara umat sendiri belum percaya dengan kapabilitas mereka. Pengelolanya, baik pengurus maupun staf, bekerja secara sukarela, tanpa gaji. Pelayanan hanya dilasanakan pada hari Minggu setelah misa I dan II dengan 3 orang tenaga volunteer – sukarela, yaitu Nelly Gunawaty, Sri Djuhariningsih dan Maria Sukarni. Mereka dimentori oleh Serafina Serafin yang pada waktu itu sudah bekerja di Kopdit Credit Union Khatulistiwa Bakti. Akibatnya Stella Maris belum bisa dikembangkan secara maksimal untuk melayani kebutuhan anggota yang berimbas pada perkembangannya yang lamban.

Umat yang pernah membutuhkan bantuan pun tidak serta merta tertarik mau menjadi anggota. Selama 3 tahun (1997) jumlah anggota baru mencapai 179 orang dan aset baru Rp 67.631.575,- Tetapi akhir tahun buku 2013 jumlah anggota telah mencapai 5.040 orang dan aset Rp 54.798 708.416,- Menurut kreteria Kementerian Koperasi dan UKM, Kopdit Credit Uniion Stella Maris sudah termasuk koperasi besar Indonseia. Karena jumlah anggota sudah di atas 1000 orang, dan jumlah aset sudah di atas Rp 10 miliar.

Setelah terseok-seok agak lama, kata Maria, fase perkembangan yang terlihat cukup signifikan mulai tahun 2002. Saat itu disadari bahwa misi credit union bukan hanya untuk kelompok – golongan tertentu tetapi untuk semua orang yang ingin berkendak baik, membangun kebersamaan, mengatasi kesulitan bersama, saling tolong menolong dan membangun kesejehateraan bersama. “Kalau yang berhak menjadi anggota hanya umat Katolik saja berarti sudah melanggar hak umat lain menjadi anggota, terlibih mengingkari cita-cita misi mulia credit union,” jelas Maria. Karena itu akhirnya membuka diri siapa pun, setiap orang boleh menjadi anggota.

Kebijakan membuka kesempatan bagi masyarakat luas tanpa melihat agama, suku dan golongan juga pernah ada pro kontra. Terutama dari umat yang sangat fanatik. Misalnya, ada yang mengatakan, kita tidak bisa melayani pada hari Minggu karena hari Minggu adalah hari Sabat untuk Tuhan. “Untuk melayani Tuhan, tidak hanya pada hari Minggu. Melayani umat, itu bukti cinta kasih kita kepada umat, yang artinya juga melayani Tuhan. Sampai saat ini pun masih ada yang tanya, kenapa harus melayani – buka kantor pada hari Minggu,” jelas Maria serius.

Sejarah berdirinya Stella Maris buka hari Minggu, lanjut Maria, untuk melayani umat yang ke gereja. Sekalian mereka pergi ke gereja, mengurangi transportasi, mereka bisa menabung di koperasi. Karena kantor ini juga dekat dengan gereja hari Minggu pun tetap buka. “Kantor buka hari Minggu itu harga mati. Ketika menerima pegawai baru, juga dijelaskan dan harus menjadi komitmen. Karena sudah mendarah-daging dalam diri, tidak merasa terbebani. Melayani dengan iklas dan penuh kasih adalah pelayanan kepada Tuhan. Kebetulan sampai saat ini semua karyawan umat Katolik, lebih mudah memberikan pengertian,” jelas Maria, lalu menambahkan bahwa pelayanan tidak sehari penuh, hanya dari jam 09 – 13 Wib, dan hari Sabtu libur.

Ketika kantor masih di kompleks gereja, sementara anggota sudah mulai ada yang dari umat Muslim, ada pemandangan yang barang kali kelihatan aneh, pakai jilbab kok ke gereja. Padahal mereka itu hanya bertransaksi dengan koperasi, menabung atau pinjam uang. Tetapi lama-lama, makin banyak masyarakat yang tahu, dan makin banyak orang berjilbab di lingkungan gereja, menjadi biasa saja. “Entah benar atau salah, mereka yang non Katolik itu menganggap lebih percaya orang Katolik yang mengelola keuangan. Nilai kejujuran yang mereka nilai,” kata Maria, tidak bermaksud mendiskreditkan yang lain itu tidak jujur. Brang kali, lanjutnya, mereka menyimpan uang di Stella Maris itu untuk mengembangkan ekonominya lebih aman.

Setelah pindah kantor dari kompleks gereja, dan berhasil membangun gedung kantor di lokasi strategis di Jln Gusti Situt Mahmud No 80, Siantan, Pontianak, mendorong perkembangan Stella Maris melaju pesat. Dari jumlah anggota, misalnya, setiap bulan rata-rata di atas 100 anggota baru masuk. Waktu masih di kompleks gereja pertambahan jumlah anggota paling hanya 20 – 30 orang per bulan. Pengaruh dari seringnya berpromosi juga cukup besar terhadap pertambahan jumlah anggota. Kalau dilihat perkembangan jumlah anggota yang saat ini mencapai 5.040 orang, selama 3 tahun terakhir, prosentasenya yang non Katolik, terutama dari umat Muslim lebih besar.

 “Sekarang yang non Katolik sudah sekitar 40%, dan pertambahannya semakin besar. Ada yang dibawa oleh teman-temanya, ada juga karena setelah mereka melihat kantor lalu mampir tanya-tanya, segtelah mendapat penjelasan akhirnya mendaftar menjadi anggota, Jelas Maria. Tentang kebijakan pengembangan ke depan, kata dia, harus lebih fokus ke masyarakat non Katolik. Dan itu sudah dimulai, misalnya, di tempat pelayanan (TP) Jungkat dan Segedong, sudah melakukan pendekatan dengan kelompok ibu-ibu pengajian.

Kepada mereka selalu dijelaskan bahwa awal berdirinya Kopdit Credit Union Stella Maris itu dimulai dari Paroki, tetapi sekarang sudah terbuka untuk semua orang. Meski diakui belum menjadi kebijakan lembaga mengadakan kerja sama secara formal dengan tokoh-tokoh masyarakat tetapi secara informal telah terjalin dengan baik. Selagi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat mereka tidak ada masalah.

Sebagai salah seorang pendiri dan sejak awal terlibat dalam proses pengelolaan lembaga yang kini asetnya cukup besar, Maria merasa was-was jika terjadi stagnan peredaran uang. Kalau uang tersalurkan kepada anggota lancar, pengembaliannya juga lancer, dan semua lancar-lancar saja, pasti senang. Untuk menghindari terjadinya penumpukan uang di lembaga, harus ada kiat untuk memasarkan uang tersebut. Sebab pendapat lembaga untuk membiayai operasional termasuk membayar gaji karyawan berasal dari jasa pinjaman anggota.

Yang ideal, anggota pinjam uang di koperasi bukan untuk kebutuhan konsumtif, misalnya, beli alat-alat elektronik, beli mebel, dan sebagainya, tetapi untuk kegiatan produktif seperti untuk modal usaha. Kalau pinjam uang itu untuk kegiatan usaha, kesejahteraan anggota akan lebih cepat tercapai, dan lembaga juga akan lebih sehat karena perputaran uangnya lebih cepat. Menurut data, anggota yang pinjam untuk kegiatan produktif memang belum cukup besar karena baru sekitar 20%. “Idealnya yang pinjam untuk kegiatan produktif itu di atas 50%. Anggota sebagian besar pegawai swasta, pegawai negerinya sedikit, dan lebih sedikit lagi yang wirausaha,” jelasnya. (dm)

Sumber: http://majalahukm.com

Betang Asi Lakukan Pelantikan Unsur Manajemen

Written By rokhmond onasis on Tuesday, April 22, 2014 | 2:28 AM

“Pelantikan ini mengacu kepada kebutuhan dan penetapan orang-orang yang duduk untuk mengisi yang kosong,  dipilih secara profesional dan proporsional sesuai dengan keahliannya”.

Itulah kalimat yang disampaikan oleh Ethos H.L, GM Kopdit CU Betang Asi, saat acara pelantikan unsur pimpinan manajemen Kopdit CU Betang Asi Tahun Buku 2014, Senin (14/4) lalu.

Tampak hadir pengurus Ambu Naptamis, SH, MH, Athis, S.Sos, Pitur L. Sanen, S.Pd dan Karna Sophia Simbolon pada acara yang laksanakan aula kantor pusat lantai 3 Palangka Raya. Acara yang berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 11 siang ini dipandu oleh Desi Natalia sebagai pembawa acara.

Sepekan berikutnya saat penulis menemui salah seorang staf yang dilantik Longgor, SE di kantor pusat Palangka Raya, (21/4). Ia mengatakan bahwa tetap mempertahankan pola yang sudah baik terkait pengelolaan administrasi umum dan logistik yang ada.

“Ada dua terobosan yang akan saya lakukan yaitu pengelolaan administrasi secara sistematis, untuk membuat program, data base untuk pegawai dan kedua pembenahan administrasi/ inventaris serta akan terjun ke TP-TP untuk inventaris yang ada supaya penyusutan barang jelas,” jelas Longgor.

Ia menargetkan bahwa dalam 1-2 bulan ke depan pembenahan di tingkat TP akan dilakukan, sedangkan program komputerisasi untuk data base diharapkan dapat berjalan 1 tahun ke depan.

Di tempat yang sama, Yohanes Changking, SE dipercaya sebagai manajer diklat dan litbang. Kepada penulis, Selasa (22/4) ia menjelaskan bahwa strategi yang dilakukan sebagai manajer diklat dan litbang baru ia harus mempelajari dan menyesuaikan dengan program kerja yang sudah dibahas sebelumnya pada Tahun Buku 2014.

“Menurut saya program kerja sudah disusun melalui proses panjang jadi saya tidak berani untuk keluar dari program kerja, namun apabila ada inovasi program kerja itu bagian dari proses penyempurnaan,” jelasnya.

Strategi lainnya menurut Changking ia akan melakukan melakukan pendataan ulang di berbagai bidang misalnya kolektor, fasilitator lokal maupun di tingkat  TP/ TPK, sehingga memang betul-betul optimal dan mempunyai kemampuan yang merata untuk menjelaskan CU kepada anggota dan calon anggota.

Terkait pendidikan Financial Literacy (FL), pria yang pernah menjabat sebagai manajer kredit dan pemasaran ini mengatakan, belum bisa memastikan berapa frekuensinya untuk program kerja dan hasil BP semalam karena belum sampai ke kita, dan masih dalam proses percetakan.

“Informasi yang saya terima dari manajer sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan TOT untuk FL, tapi pelatihan ini hanya dasar awal dan harus dievaluasi lagi bagaimana penerapannya  kepada anggota, yang sudah kita latih mempunyai kemampuan dan kapasitasnya sehingga pemahaman anggota tidak salah, karena FL itu menyeluruh dalam proses siklus kehidupan secara tuntas,” ungkap Changking.

Adapun nama-nama yang direposisi jabatannya adalah sebagai berikut. Andika Harianto sebagai  manajer kredit dan pemasaran TP Kantor Pusat; Yohanes Changking sebagai Manajer Diklat dan Litbang; Yosi Monalisa sebagai Manajer ADM, HRM dan Perlindungan; Longgor sebagai kadiv ADM dan Logistik; Jantang Matudi sebagai kadiv IT dan data base;

Berikutnya, Elia Sujiono sebagai koordinator TPK Tewah; Yuliani sebagai kabag keuangan TP PH; Erwin Harefa sebagai koordinator TPK Tumbang Jutuh; Sri Wulan sebagai manajer TP Batu Lampang Telok; Thomas Fajar sebagai kabak diklat TP Batu Lampang Telok; Estie Vetra Kasih sebagai manajer TP Batuah Marajaki, Petuk Liti; Wardalely sebagai kabag keuangan TP BM; Asep Nana Sumpena sebagai Kabag Diklat TP BM; Donny sebagai kabag keuangan TP TBS Pujon dan Shiawan Etora sebagai koordinator TPK Kasongan.

Semoga suasana kerja yang baru membuat pemimpin-pemimpin muda ini menjadi lebih bersemangat untuk membangun insan kopdit CU Betang Asi untuk menolong diri sendiri sekaligus menolong orang lain. Handep Hapakat Sewut Batarung!.

Sumber foto: Dokumen Kopdit CU Betang Asi.

Tim PPR Betang FC Raih Juara III

Written By rokhmond onasis on Sunday, April 6, 2014 | 9:08 AM

‘Mens sana in corpore sano’ itulah ungkapan Latin sering kita dengar yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Namun tubuh yang sehat juga tidak cukup ada juga ungkapan,’Tuhan, aku ingin hidup sehat. Ajarilah aku agar tidak hanya memperhatikan kesehatan badan melainkan juga kesehatan rohaniku.’

Keseimbangan itulah inti dari ungkapan di atas, olah raga untuk fisik dan mental. Berawal dari hobi berolah raga, Yuseros menceritakan kepada penulis pada Jumat (4/4) di Palangka Raya, olah raga futsal ia tekuni dan di teruskan dengan mengikuti turnamen-turnamen yang ada.

Setelah mengikuti 2 kali turnamen akhirnya kali kedua dengan waktu berlatih yang lebih panjang tim yang di dampinginya mendapatkan juara III. “Pelita Putra Raya Betang Futsal Club (PPR Betang FC), itulah nama tim futsal kami,” terang Seros panggilan akrabnya.

Sebagai official di tim sekaligus pemain dengan nomor punggung 20, Seros menceritakan bahwa keinginannya Ingin membawa nama CU bukan hanya di perkoperasian tapi juga di dunia olah raga. “Tim kami berjumlah 15 orang,  dan beberapanya adalah anggota CU Betang Asi,” ungkap pria yang juga menjadi security di kantor pusat, Palangka Raya

Dari informasi yang diterima penulis, dari Even Three B yang dilaksanakan pada 21-31 Maret 2014 lalu diikuti 36 club sekota Palangka Raya. Kegiatan dipusatkan di lapangan indoor KONI Sanaman Mantikei. Sebagai juara I Putra Perdana Futsal Club (PPFC), juara II CKB dan juara III PPR Betang FC.

“Kami mengalahkan club Kecebong dan langsung masuk semi final. Ada 4 club yaitu, Putra Perdana, Rajana Fogos, Betang PPRFC dan yang keempat saya lupa namanya,” jelas Seros sambil tersenyum.

Menurut Seros, selain tropy sebagai juara III mereka menerima uang 2 juta rupiah. Makan malam bersama dipilih untuk merayakan kemenangan dan sisa uang yang ada di gunakan untuk pembelian sepatu serta baju tim futsal.

Seros berharap ke depan dapat meningkatkan prestasi yang lebih baik, ada komitmen dari kawan-kawan bahwa club baru dapat menjadi terkenal di kota Palangka Raya. Semoga Hendrik, Zunai, Panji, Oktaviadi, Fauji, Triyadi, Aprianto, Riski, Edi.S, Ibnu, Indra Narang, Rudi, Jojo dan Davi dapat mewujudkan harapan tersebut.

Tingkatkan terus prestasi PPR Betang FC di dunia olah raga futsal. Handep Hapakat Sewut Batarung.

Sumber foto: Rokhmond Onasis & Yuseros
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa